Harga Bitcoin Turun Pada Hari Sabtu 16 Maret 2024, Dogecoin dan ShibaInu Masih Menguat

(Foto oleh Beo88 dari iStockphoto)

Pasar kripto, khususnya Bitcoin (BTC) mengalami koreksi tajam baru-baru ini, turun hampir 7% dalam 24 jam terakhir dari ATH terbarunya di US$ 73.682 atau setara dengan Rp 1,151 miliar. Bahkan, pada hari ini, Jumat (15/3) pukul 15.30 WIB harga BTC anjlok ke US$ 67.919. 

Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, penurunan ini dipicu oleh turunnya arus masuk dana investasi ETF Bitcoin dan rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan keadaan inflasi begitu keras dari perkiraan sebelumnya. 

Fyqieh mengatakan, lonjakan arus keluar bersih dari Grayscale Bitcoin Trust (GBTC) dan kemunduran arus masuk bersih iShares Bitcoin Trust (IBIT) juga berdampak pada penurunan. 

“GBTC melihat arus keluar bersih sebesar US$276.5 juta, naik dari US$79.0 juta pada Kamis (14/3). IBIT melihat arus masuk bersih turun dari US$849,0 juta menjadi US$586,5 juta di hari yang sama,” kata Fyqieh kepada Kontan.co.id, Jumat (15/3). 

Lebih lanjut, Fyqieh menjelaskan bahwa kenaikan Indeks Harga Produsen (PPI) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) menandakan inflasi yang lebih tinggi, sehingga mendorong spekulasi bahwa The Fed akan mengadopsi kebijakan moneter yang lebih ketat daripada yang diharapkan sebelumnya.

“Data PPI bulan Februari yang baru rilis Kamis (14/3) malam kemarin, naik 0,6%, dua kali lipat dari bulan Januari dan melampaui ekspektasi para ekonom,” kata dia. 

Fyqieh bilang, meski PPI inti tidak memperhitungkan biaya pangan dan energi, namun melambat menjadi 0,3% dari 0,5%, dan angka tersebut masih di atas perkiraan sebesar 0,2%. 

“Dan laporan ini mengikuti CPI yang juga menunjukkan inflasi tahunan sebesar 3,2%, dengan inflasi inti naik menjadi 3,8%,” kata dia. 

Peningkatan inflasi ini telah mempengaruhi pasar obligasi, dengan imbal hasil Treasury 10-tahun naik menjadi 4,30%. Indeks Dolar AS (DXY) yang naik juga mempengaruhi aset berisiko, seperti Bitcoin. DXY tercatat naik sekitar 1% dalam seminggu terakhir. 

Dengan kondisi tersebut, Fyqieh mengatakan dapat mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Padahal, pasar telah mengalami penyesuaian ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Awal tahun ini, pasar memprediksi pemotongan suku bunga sebesar 150 basis poin pada tahun 2024. 

“Namun, data ekonomi terbaru menghapus harapan tersebut, dengan peluang pemotongan suku bunga pada pertemuan FOMC mendatang menjadi semakin tidak mungkin,” imbuhnya. 

Bitcoin Anjlok, Meski Naik Signifikan pada Awal Tahun

Fyqieh menuturkan, Bitcoin telah mengalami kenaikan dramatis sekitar 70% sejak awal tahun 2024, mencapai rekor tertinggi baru di lebih dari US$73.000, dan kini mengalami tekanan berat. Saat ini, BTC diperdagangkan dikisaran di bawah level support kuatnya US$70.000, menandai penurunan lebih dari 6% dalam 24 jam terakhir.

Menurut dia, kondisi ini menegaskan kembali betapa sensitifnya pasar kripto terhadap perubahan kebijakan dan kondisi ekonomi makro. Para investor dan trader di pasar kripto perlu memperhatikan lebih dekat indikator ekonomi dan kebijakan moneter untuk menavigasi pasar yang volatil ini.

“Sentimen Crypto Fear & Index juga mengalami penurunan dari sisi angka, dari 88 poin ke 83 poin pada Jumat (15/3), meski masih di kategori "Extreme Greed",” kata Fyqieh.

Fyqieh menilai, penurunan ini mengindikasikan bahwa meskipun masih ada tingkat keinginan yang tinggi untuk berinvestasi, tetapi ada sedikit penurunan kekhawatiran atau ketakutan di pasar. Sentimen ini dapat tercermin dari perubahan harga aset kripto dan aktivitas perdagangan yang terjadi secara umum. 

“Terlepas dari fluktuasi harian, perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran dalam persepsi dan emosi investor terhadap pasar kripto,” ungkapnya. 

Harga ShibaInu Tetap Masih Stabil



Harga Coin dari ShibaInu ataupun Dogecoin tidak mengalami penurunan drastis, untuk membeli crypto coin bisa melalui Indodax.com ataupun Pintu.co.id
Next Post Previous Post