Mengantisipasi Penurunan Suku Bunga AS: Rekomendasi Saham BBRI dan BBCA untuk Investor

Mengantisipasi Penurunan Suku Bunga AS: Rekomendasi Saham BBRI dan BBCA untuk Investor

Penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) yang mulai memberikan sinyal kuat dari Federal Reserve (The Fed) pada tahun 2025 menjadi momentum penting bagi para investor saham, khususnya di sektor perbankan Indonesia. Kebijakan The Fed yang kemungkinan memangkas suku bunga ini dapat membuka peluang baru bagi pertumbuhan kredit perbankan dan meningkatkan likuiditas pasar modal domestik. 

Dalam konteks ini, saham dua bank terbesar di Indonesia, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Central Asia (BBCA), menjadi sorotan utama untuk strategi investasi.

Sinyal Pemangkasan Suku Bunga AS dan Dampaknya

Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan sinyal pemangkasan suku bunga di rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2025. Kebijakan ini diharapkan menurunkan biaya dana global dan memicu gelombang investor kembali ke aset-aset berisiko, termasuk saham perbankan di pasar negara berkembang seperti Indonesia. Penurunan suku bunga global ini akan berdampak terhadap likuiditas dan ekspansi kredit yang lebih agresif oleh bank-bank nasional.

Rekomendasi Saham BBRI dan BBCA

Mengantisipasi Penurunan Suku Bunga AS: Rekomendasi Saham BBRI dan BBCA untuk Investor
(Foto Saham BBRI dari Google Finansial)
Tim analis Bareksa merekomendasikan saham BBRI dan BBCA sebagai pilihan utama untuk strategi trading buy di tengah antisipasi penurunan suku bunga AS. Berikut rincian rekomendasinya:

✅ BBRI (Bank Rakyat Indonesia)

Bank pelat merah ini dikenal fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. Rekomendasi trading buy diberikan dengan harga beli antara Rp4.050 hingga Rp4.120 per saham. Target harga ambil untung dipatok pada level Rp4.250 hingga Rp4.400, dengan stop loss di posisi Rp3.900. Kelebihan BBRI terletak pada portofolio kredit bunga tetap untuk UMKM yang memungkinkan margin bunga lebih stabil saat suku bunga turun.

✅ BBCA (Bank Central Asia)

BBCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia dan memiliki fundamental kuat serta kapitalisasi pasar yang besar. Bank ini mendapat rekomendasi trading buy dengan harga masuk di kisaran Rp8.375 hingga Rp8.500 per saham. Target jual ada di level Rp8.800 hingga Rp8.900, dengan stop loss di Rp8.250. BBCA dipandang mampu mengambil manfaat dari penurunan suku bunga dengan peningkatan ekspansi kredit dan pendapatan bunga bersih (NIM) yang lebih besar.

Potensi dan Risiko Investasi

Penurunan suku bunga AS diprediksi akan menurunkan biaya dana secara global, mendorong likuiditas yang lebih longgar, dan merangsang pertumbuhan ekonomi. Hal ini sangat menguntungkan sektor perbankan yang sensitif terhadap perubahan tingkat bunga. Namun, risiko inflasi yang masih belum sepenuhnya terkendali dan tekanan geopolitik tetap perlu diwaspadai oleh investor.

Dari sisi kinerja, data kinerja keuangan paruh pertama 2025 menunjukkan BBCA masih memimpin dengan pertumbuhan laba bersih, sementara BBRI dan bank-bank besar lain mengalami tantangan. Kendati demikian, sentimen positif dari sinyal penurunan suku bunga ini membuka peluang rebound dan peningkatan nilai saham keduanya dalam jangka menengah hingga panjang.

Kesimpulan

Mengantisipasi penurunan suku bunga acuan AS, BBRI dan BBCA menjadi pilihan saham yang direkomendasikan bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum positif di sektor perbankan Indonesia. Trading buy di level terukur dengan target harga jual yang realistis dan stop loss menjadi strategi yang disarankan untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan potensi keuntungan.

Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan kebijakan The Fed dan kondisi makroekonomi domestik sebagai bahan evaluasi berkelanjutan terhadap portofolio investasi saham perbankan.

 

Next Post Previous Post