Dana Asing Kabur Rp2,14 Triliun, Saham BBCA, BMRI, dan BBRI Paling Banyak Dilego

Dana Asing Kabur Rp2,14 Triliun, Saham BBCA, BMRI, dan BBRI Paling Banyak Dilego
(Foto Harga Saham Bank Indonesia dari Google Finansial)
Dana asing tercatat kabur dari pasar saham Indonesia dengan nilai penjualan bersih (net foreign sell) mencapai sekitar Rp2,14 triliun pada perdagangan hari Senin, 1 September 2025. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan laporan Phillip Sekuritas Indonesia, aksi jual besar-besaran ini didominasi oleh saham-saham sektor keuangan, khususnya saham perbankan berkapitalisasi besar. 

Tiga saham dengan nilai penjualan asing terbanyak adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp1,6 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp734,15 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp110,22 miliar. Selain sektor perbankan, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga termasuk saham yang dilepas asing secara signifikan.

Fenomena keluarnya dana asing dari pasar saham ini terjadi di tengah meningkatnya gejolak politik dan demonstrasi yang berlangsung di Indonesia sejak akhir Agustus 2025. Demonstrasi besar-besaran di Jakarta dan daerah lain, yang menimbulkan kerusuhan dan korban jiwa, memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas politik dan ekonomi negara. 

Bahkan terjadi aksi kerusuhan yang merembet hingga menjarahi rumah anggota DPR dan rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani sehingga memicu ketidakpastian yang mendorong aksi jual saham dari investor asing.

Dampak langsung dari aksi jual asing ini terlihat pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 1,21 persen ke level 7.736,06 pada perdagangan hari yang sama. Seluruh indeks saham utama lainnya di pasar domestik juga ikut terpukul, seperti IDX30 turun 1,08%, LQ45 melemah 1,06%, serta indeks sektor kehati dan JII yang juga terkoreksi.

Penggiat pasar modal mengantisipasi bahwa tekanan jual dari investor asing akan berlanjut selama ketidakpastian politik tidak cepat mereda. Beberapa analis memperkirakan investor asing akan menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah untuk menstabilkan kondisi sebelum kembali melakukan investasi. Selain faktor dalam negeri, faktor eksternal seperti kebijakan moneter The Fed di Amerika Serikat yang kemungkinan menahan suku bunga juga menambah sentimen negatif yang membuat aliran modal asing keluar. 

Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang cenderung melemah serta turunnya harga komoditas global juga mempercepat arus keluar modal asing, terutama pada saham-saham big caps dan saham di sektor energi dan komoditas.

Meskipun begitu, Bursa Efek Indonesia optimistis bahwa arus modal asing ini bersifat sementara dan didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat serta posisi pasar saham yang masuk dalam indeks global seperti MSCI yang menjadi acuan investor institusi global. 

Sejarah juga menunjukkan bahwa IHSG mampu bangkit dengan cepat setelah krisis politik dan sosial berakhir. 

Dengan harapan stabilisasi politik dan ekonomi yang membaik, dana asing diperkirakan akan kembali masuk ke pasar saham Indonesia secara selektif terutama ke saham perbankan besar dan saham konsumer.

 

Next Post Previous Post