Arang Kayu Laris Manis Jelang Tahun Baru: Produksi Melonjak 2x Lipat

 

Arang Kayu Laris Manis Jelang Tahun Baru: Produksi Melonjak 2x Lipat

Arang kayu menjadi barang laris manis menjelang Tahun Baru 2026 di berbagai daerah Indonesia, dengan produksi melonjak hingga dua kali lipat akibat tingginya permintaan untuk kegiatan bakar-bakar. Lonjakan ini terlihat jelas di Kabupaten Semarang dan wilayah lain seperti Bogor serta Palembang.

Lonjakan Produksi di Semarang

Produksi arang kayu di Desa Mluweh, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, meningkat signifikan sejak akhir Desember 2025. Pekerja di industri rumahan setempat sibuk memilah arang dari kayu asam, johar, sonokeling, dan sengon untuk memenuhi pesanan yang membeludak jelang perayaan malam Tahun Baru. Harga pun melonjak menjadi Rp100.000 per karung 35 kg, dua kali lipat dari harga normal.

Permintaan di Daerah Lain

Di Desa Tapos, Tenjo, Kabupaten Bogor, produsen seperti Dedi kebanjiran order arang kayu untuk pesta pergantian tahun. Sementara di Palembang, penjual seperti Listini mencatat peningkatan keuntungan dengan harga mulai Rp7.000 per kantong kecil hingga Rp42.000 per karung besar, bahan baku dari limbah kayu rempesan. Di Lubuk Linggau, arang kayu lebih diminati daripada arang batok karena api tahan lama, dijual Rp15.000 per karung.

Alasan Popularitas Arang Kayu

Masyarakat memilih arang kayu untuk bakar ikan, ayam, atau daging karena menghasilkan api stabil dan tahan lama. Tradisi pesta barbekyu saat Tahun Baru mendorong permintaan, menjadi berkah bagi pedagang dan produsen rumahan. Fenomena ini mirip dengan lonjakan saat Idul Adha, menandakan antusiasme perayaan nasional.

Next Post Previous Post