CDIA Tetap Juara: Saham Top Pilihan Investor Menuju 2026
Di tengah gejolak pasar saham Indonesia yang dipengaruhi ketidakpastian global seperti suku bunga The Fed dan fluktuasi harga komoditas, saham CDIA (PT Chandra Daya Investasi Tbk) tetap berdiri kokoh sebagai top pick investor. Harga saham CDIA ditutup di kisaran Rp 1.200 per lembar pada perdagangan Jumat lalu, naik 15% year-to-date (YTD) 2025, mengalahkan indeks IHSG yang hanya tumbuh 8%. Mengapa CDIA masih juara? Mari kita bedah alasannya menjelang pergantian tahun.
Fundamental Solid dari Grup Barito
CDIA, anak usaha PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), bukan saham spekulatif biasa. Perusahaan ini berfokus pada investasi infrastruktur energi terbarukan, logistik, dan properti industri—sektor yang diproyeksi tumbuh pesat di era transisi energi Indonesia. Pada laporan keuangan Q3 2025, CDIA catatkan pendapatan Rp 5,2 triliun, naik 28% YoY, didorong akuisisi aset PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) di Jawa Timur senilai Rp 2 triliun.
Laba bersih melonjak 35% menjadi Rp 1,8 triliun, berkat efisiensi operasional dan dukungan dari induk usaha BREN yang kuasai 70% saham.
ROE (Return on Equity) mencapai 22%, jauh di atas rata-rata sektor properti dan infrastruktur (15%).
Debt-to-Equity Ratio rendah di 0,4x, menandakan neraca sehat di tengah kenaikan suku bunga BI Rate 6,25%.
Analis Mirae Asset Securities memproyeksikan target harga CDIA Rp 1.500–1.700 pada 2026, dengan potensi upside 25–40%. "CDIA punya moat kuat dari ekosistem Barito Group, plus dukungan kebijakan pemerintah soal Net Zero Emission 2060," ujar analis senior mereka, Rina Susanti.
Tren Pasar yang Menguntungkan CDIA
Pasar saham 2025 memang volatil: IHSG terkoreksi 5% di Q4 akibat perang dagang AS-China fase dua. Namun, CDIA justru resisten. Alasan utamanya?
Dukungan Kebijakan Domestik
Pemerintah Jokowi-Prabowo lanjutkan program 24 PLTS baru di 2026 dengan anggaran Rp 50 triliun. CDIA sudah kontrak suplai panel surya untuk 5 proyek, potensial tambah revenue Rp 3 triliun.
Valuasi Murah
PER (Price-to-Earnings Ratio) CDIA hanya 8x, dibandingkan peer seperti PGEO (12x) atau TBIG (10x). PBV (Price-to-Book Value) 1,5x juga undervalued mengingat aset bersih Rp 15 triliun.
|
Metrik Valuasi |
CDIA |
Rata-rata Sektor |
Peer (PGEO) |
|
PER (x) |
8,0 |
10,5 |
12,2 |
|
PBV (x) |
1,5 |
2,1 |
2,8 |
|
Dividend Yield |
4,2% |
3,1% |
2,9% |
Momentum Teknis
Risiko dan Strategi Investasi
- Fluktuasi harga komoditas: Ketergantungan pada nikel untuk baterai EV bisa tertekan jika harga turun di bawah USD 15.000/ton.
- Regulasi lingkungan: Penundaan izin PLTS di Kalimantan berpotensi tunda proyek Rp 1 triliun.
- Beta tinggi 1,2x, rentan koreksi IHSG jika inflasi AS meledak.
Prospek 2026: Menuju Rp 2.000?
| (Foto Saham CDIA dari Google Finansial) |

