Harga Saham Superbank (SUPA) Anjlok Sentuh ARB, Intip Kinerja Keuangannya
| (Foto Saham SUPA dari Google Finansial) |
Saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) baru saja mengalami penurunan tajam hingga menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB), menandakan tekanan jual yang kuat di pasar. Meski demikian, kinerja keuangan perusahaan menunjukkan perbaikan signifikan sepanjang 2025, yang patut menjadi perhatian investor.
Pergerakan Harga Saham SUPA
Saham SUPA debut di Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2025 dengan harga IPO Rp635 per saham dan langsung menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) hingga Rp790, naik 24,41% pada hari pertama.
Performa awal ini berlanjut dengan kenaikan hingga 73,96% menjadi Rp1.230 dalam beberapa hari perdana, mengalahkan saham bank digital lain seperti ARTO dan BBYB yang justru anjlok. Namun, fluktuasi pasar kini membawa SUPA ke ARB, mencerminkan sentimen investor yang berubah cepat pasca-IPO.
Kinerja Keuangan Positif
Hingga November 2025, Superbank membukukan laba sebelum pajak Rp122,4 miliar, berbalik dari rugi Rp388 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bunga bersih melonjak 165% YoY menjadi Rp1,4 triliun, didorong penyaluran kredit naik 58% YoY ke Rp9,3 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 149% YoY mencapai Rp11 triliun. Total aset pun ekspansi 69% YoY menjadi Rp18 triliun, dengan lebih dari 5 juta nasabah dan 1 juta transaksi harian.
Faktor Penyebab Anjlok ke ARB
Penurunan ke ARB kemungkinan dipicu oleh aksi ambil untung setelah euforia IPO, ditambah kompetisi ketat di sektor bank digital yang membuat saham sejenis seperti BBYB turun 18,3%. Meski fundamental solid, valuasi pasca-IPO yang tinggi (dari dana IPO Rp2,79 triliun) rentan koreksi pasar. Analis menilai pertumbuhan agresif Superbank tetap menjanjikan jangka panjang.

