Link Rekaman Asli Parera Viral Video Call dengan Sultan Malaysia Durasi 11 Menit Ramai Dicari
Rekaman yang disebut sebagai “video call Parera 11 menit dengan Sultan Malaysia” adalah konten dewasa yang diduga hasil rekaman diam‑diam dari sesi video call seksual (VCS) dengan seorang pria yang mengaku atau diklaim sebagai “Sultan Malaysia,” bukan video resmi atau terkonfirmasi kebenarannya. Sejauh ini yang banyak beredar di publik justru potongan‑potongan pendek, sementara klaim “full 11 menit” lebih banyak dipakai sebagai umpan klik dan jualan konten ilegal di Telegram atau situs tak resmi.
Apa isi yang diklaim ada di video?
Narasi di berbagai media menyebut konten berisi aksi VCS: Parera tampil memperlihatkan bagian tubuh secara vulgar di depan kamera kepada seorang pria di layar, dengan nuansa percakapan dewasa sepanjang panggilan.
Sosok pria di seberang hanya ditampilkan sebatas suara atau sebagian tampilan layar tanpa wajah jelas, sehingga identitas sebagai “Sultan Malaysia” tidak terverifikasi dan sangat diragukan.
Fakta penting soal keaslian dan klaim
Tidak ada konfirmasi resmi dari pihak Parera maupun otoritas bahwa rekaman penuh 11 menit itu benar, asli utuh, atau memang melibatkan “Sultan Malaysia”; banyak pihak justru menilai isu ini lebih banyak spekulasi dan sensasionalisasi warganet.
Beberapa laporan menyebut pola modus: pria mengaku kaya atau “sultan” mengajak VCS berbayar, merekam diam‑diam tanpa izin, lalu rekaman (atau editannya) dijual dan disebar di jaringan grup gelap seperti Telegram, X (Twitter) anonim, atau cloud sharing.
Mengapa link-nya ramai dicari?
Kata kunci seperti “Parera 11 menit”, “Parera Sultan Malay”, dan “Parera full VC” naik drastis karena rasa penasaran plus promosi agresif akun‑akun yang menjual atau memancing klik dengan embel‑embel “full HD tanpa sensor”.
Banyak tautan yang beredar justru mengarah ke:
Grup berbayar penjual konten ilegal.
Situs phishing/malware yang mengincar data, dompet digital, atau akun media sosial pengguna yang penasaran.
Risiko hukum dan etis
Menyimpan, menyebarkan, atau ikut memperjualbelikan rekaman VCS tanpa izin pihak yang direkam termasuk pelanggaran privasi dan berpotensi melanggar UU ITE serta aturan pornografi di Indonesia, dengan ancaman pidana bagi penyebar maupun pelaku komersialisasi.
Dari sisi etika digital, perburuan link seperti ini turut memperbesar eksploitasi korban (terlepas dari benar/tidaknya identitas dalam video), karena setiap klik dan pembelian membuat jaringan penjual konten ilegal makin kuat.
Saran aman untuk pengguna
Hindari mencari atau mengklik link yang menawarkan “rekaman asli 11 menit” karena berisiko pada: pencurian data, penipuan, paparan malware, dan jerat hukum jika ikut menyebarkan.
Jika ingin membahas kasusnya untuk konten edukatif, fokus pada isu eksploitasi digital, privasi, dan literasi media, tanpa membagikan cuplikan, mirror link, atau panduan mengakses video tersebut.

