Sejarah Hari Disabilitas Internasional dan Mengapa Harus Kita Peringati

 

Sejarah Hari Disabilitas Internasional dan Mengapa Harus Kita Peringati

Hari Disabilitas Internasional diperingati setiap 3 Desember sejak ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi 47/3 pada tahun 1992. Peringatan ini bertujuan mempromosikan hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas di semua bidang masyarakat serta meningkatkan kesadaran tentang situasi mereka dalam aspek politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

Upaya global ini dilandasi World Programme of Action concerning Disabled Persons yang diadopsi PBB pada 1981, bahkan sebelumnya pada 1976 dengan penetapan Tahun Internasional Penyandang Disabilitas.​

Latar Belakang Sejarah

PBB mengakui penyandang disabilitas sebagai kelompok paling terpinggirkan, sehingga memproklamasikan hari peringatan tahunan pada 1992 untuk memajukan hak mereka. 

Pada 2006, PBB mengadopsi Konvensi Hak Penyandang Disabilitas (CRPD) yang mengubah pandangan disabilitas dari objek menjadi subjek berhak penuh. Nama resmi berubah menjadi Hari Disabilitas Internasional pada 2007 untuk menekankan pengakuan individu, bukan hanya kondisi fisik atau mental.​

Alasan Peringatan Penting

Peringatan ini meningkatkan pemahaman isu disabilitas seperti diskriminasi dan akses terbatas terhadap layanan dasar, sambil memobilisasi dukungan untuk martabat dan kesejahteraan mereka. World Health Organization (WHO) bergabung setiap tahun untuk menegaskan partisipasi penuh penyandang disabilitas secara setara di masyarakat. 

Di Indonesia, peringatan ini mendorong inklusi berkelanjutan, sejalan tema terkini seperti "Amplifying the leadership of persons with disabilities for an inclusive and sustainable future".​

Dampak dan Seruan Aksi

Setiap individu berhak diakui dan diberdayakan tanpa memandang kemampuan, sehingga peringatan ini wajib dirayakan untuk membangun masyarakat inklusif. Advokasi sejak era Franklin D. Roosevelt pada 1933 menunjukkan perjuangan panjang hak disabilitas. Mari peringati dengan aksi nyata seperti mendukung aksesibilitas dan kepemimpinan penyandang disabilitas.

Next Post Previous Post