10 Bisnis Paling Terpukul Saat Rupiah Jebol Rp17.000: Dari UMKM hingga BUMN
Ketika rupiah melemah ke level Rp17.000 per dolar AS atau lebih buruk, dampaknya merembet luas ke berbagai lapisan ekonomi Indonesia, dari UMKM lokal hingga raksasa BUMN. Pelemahan ini memicu inflasi impor, beban utang valas membengkak, dan daya beli masyarakat menurun tajam, sehingga bisnis impor-intensif paling rentan kolaps. Berikut uraian lebih panjang tentang 10 bisnis paling terpukul, lengkap dengan alasan, contoh kasus historis, dan proyeksi dampak terkini berdasarkan pola krisis mata uang sebelumnya.
Impor Barang Konsumsi
Bisnis ritel susu formula, snack impor, dan produk kecantikan seperti milk powder dari Australia atau kosmetik Korea Selatan langsung terhantam karena 70-80% bahan baku diimpor. Saat rupiah jebol, biaya pengadaan naik 20-30%, memaksa harga jual melonjak dan penjualan turun hingga 40%. UMKM warung modern seperti Indomaret cabang kecil sering gulung tikar karena tak bisa saingi harga lokal, sementara konsumen beralih ke alternatif murah tapi kualitas rendah.
Sektor Otomotif
Industri otomotif, termasuk dealer Toyota, Honda, dan bengkel suku cadang, bergantung 80% pada CKD dan komponen impor dari Jepang serta Thailand. Pelemahan rupiah picu kenaikan harga mobil baru hingga Rp50-100 juta per unit, penjualan anjlok 25-35% seperti saat krisis 2018. BUMN seperti PT Industri Kereta Api juga terdampak rel dan roda impor mahal, menghambat proyek MRT dan kereta cepat.
UMKM Elektronik
Pedagang gadget di ITC Ratu Plaza atau Glodok kesulitan stok iPhone, Samsung, dan laptop karena biaya impor naik 25%, ditambah bea masuk. Banyak UMKM beralih kredit mikro berbunga tinggi, tapi gagal bayar massal terjadi saat stok menumpuk. Dampaknya, ribuan lapangan kerja hilang di sektor servis HP, dengan penutupan toko hingga 15% di pasar tradisional.
Perkebunan dan Agribisnis
Perusahaan sawit seperti Sinar Mas dan karet Bumitama terbebani utang valas USD miliaran yang membengkak 17%, plus pupuk urea impor dari Timur Tengah naik 40%. Produksi turun karena biaya operasional melonjak, ekspor lesu akibat harga CPO dunia fluktuatif. Petani kecil di Sumatera Utara bangkrut massal, memicu krisis pangan lokal.
Maskapai Penerbangan
BUMN Garuda Indonesia dan Lion Air hadapi neraca berat karena avtur impor capai 40% biaya, naik Rp10.000 per liter. Rute internasional dipangkas 30%, PHK karyawan hingga ribuan seperti 2020, dan armada grounded karena leasing USD tak terbayar. Wisatawan mancanegara turun 50%, lumpuhkan UMKM pariwisata Bali dan Lombok.
Properti dan Konstruksi
Pengembang seperti Lippo Group dan Agung Podomoro kenaikan biaya baja impor Cina 15-20%, semen Holcim, dan keramik Italia, tunda proyek apartemen mewah. Penjualan KPR macet karena suku bunga BI naik, stok rumah tak laku hingga 2 tahun. Sektor ini kontraksi 10-15% GDP kontribusi, PHK buruh bangunan jutaan.
Tekstil dan Garmen
UMKM konveksi di Bandung dan Tasikmalaya impor kain polyester China dan pewarna kimia, biaya naik 25% tekan margin di bawah 5%. Persaingan garmet Vietnam murah bikin order ekspor pindah, pabrik tutup 20% seperti era 1998. Ribuan penjahit menganggur, rantai pasok apparel lokal kolaps.
BUMN Energi Impor
Pertamina dan PLN beban subsidi BBM serta batubara impor Australia, defisit Rp100 triliun tahunan saat rupiah lemah. Harga listrik naik 10%, industri padam massal, dan solar langka picu demo sopir truk. Program MJTS tertunda, ketergantungan impor 50% energi nasional jadi bom waktu.
Ritel Fashion Impor
Brand Zara, H&M, dan butik UMKM di mall impor pakaian fast fashion, harga naik 30% bikin stok musiman busuk di gudang. Diskon 70% tak cukup, tutup gerai 25% seperti 2015. Konsumen kelas menengah downgrade ke thrifting, industri fashion lokal untung tapi tak cukup serap tenaga kerja.
Farmasi dan Obat
Perusahaan seperti Kalbe Farma impor 60% API (bahan baku obat) dari India dan Eropa, harga insulin dan antibiotik naik 25-40%. Pasien kronis seperti diabetes kesulitan akses, BPJS defisit tambah Rp20 triliun. UMKM apotek kecil tutup karena obat generik impor mahal, ancam kesehatan publik massal.

