Bahaya Tersembunyi Gas Whipping: Bisa Lumpuh Permanen dan Henti Jantung
Gas whipping, atau nitrous oxide (N2O), adalah gas yang sering disalahgunakan untuk mendapatkan sensasi euforia sementara, namun menyimpan bahaya tersembunyi seperti kelumpuhan permanen dan henti jantung yang bisa mengancam nyawa. Penyalahgunaan ini semakin marak di kalangan remaja dan dewasa muda di Indonesia, terutama dipromosikan lewat media sosial.
Pengertian Gas Whipping
Gas whipping berasal dari kaleng whipped cream yang digunakan sebagai pendorong untuk mengembangkannya krim kocok dalam industri kuliner. Saat dihisap langsung dari balon atau kaleng, gas ini memberikan efek "high" singkat seperti tawa histeris, euforia, dan sensasi melayang selama 1-5 menit. Sayangnya, ini bukan sekadar hiburan tidak berbahaya; N2O menggantikan oksigen di paru-paru, menyebabkan hipoksia cepat yang merusak seluruh tubuh.
Video Penjelasan Gas Whipping dari TikTok @maspino29
Mekanisme Keracunan Akut
Pada penggunaan langsung, N2O menyebabkan kekurangan oksigen ekstrem di otak dan organ vital. Gejala awal meliputi pusing hebat, mual, kehilangan keseimbangan, dan penglihatan kabur dalam detik pertama. Jika berlanjut, bisa picu kejang, pingsan, atau henti jantung mendadak karena jantung kekurangan oksigen untuk memompa darah—kasus fatal dilaporkan di berbagai negara, termasuk Indonesia baru-baru ini. Risiko ini melonjak jika dikombinasikan dengan alkohol atau obat lain.
Dampak Neurologis Jangka Panjang
Penggunaan berulang mengganggu aktivasi vitamin B12, yang esensial untuk selubung mielin saraf. Akibatnya, neuropati perifer muncul: kesemutan di tangan/kaki, mati rasa, kelemahan otot, hingga gangguan koordinasi yang berujung lumpuh permanen pada ekstremitas bawah. Studi medis mencatat kerusakan ini bisa irreversibel bahkan setelah berhenti, terutama jika terdeteksi terlambat—pengguna kronis berisiko lumpuh seperti pasien sklerosis multipel.
Efek Sistemik Lainnya
Selain saraf dan jantung, N2O merusak paru-paru (risiko emboli gas), sistem kekebalan (infeksi berulang), dan mental (depresi, halusinasi, kecemasan kronis). Wanita hamil berisiko keguguran atau cacat janin karena hipoksia plasenta. Pada remaja, pertumbuhan otak terganggu, menyebabkan penurunan IQ dan masalah belajar jangka panjang.

