Berkat Dukungan LinkUMKM BRI dan Penerapan Zero Waste, Kebab Endul Berhasil Tumbuh Berkelanjutan

Berkat Dukungan LinkUMKM BRI dan Penerapan Zero Waste, Kebab Endul Berhasil Tumbuh Berkelanjutan

Kebab Endul, usaha kuliner asal Bekasi, Indonesia, mencapai pertumbuhan berkelanjutan melalui penerapan prinsip zero waste dan dukungan platform LinkUMKM dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang selaras dengan ekosistem UMKM nasional.

Inovasi Zero Waste di Kebab Endul

Pemiliknya, Aisyah Ratna Wulandari, mengubah sisa potongan kulit kebab yang sebelumnya dibuang menjadi Keripik ChipBab sejak 2022, menciptakan produk camilan bernilai jual tinggi. 

Pendekatan ini mengurangi limbah makanan secara signifikan sambil meningkatkan pendapatan, sejalan dengan gerakan zero waste nasional di Indonesia yang didorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Di tengah tantangan UMKM Indonesia yang menghasilkan jutaan ton limbah makanan per tahun, strategi ini menjadi contoh inspiratif bagi pelaku usaha kecil-menengah di Jawa Barat dan sekitarnya.

Peran Strategis LinkUMKM BRI

Platform LinkUMKM BRI menyediakan alat self-assessment untuk memantau kemajuan bisnis, mengidentifikasi kekurangan seperti sertifikasi halal, serta memberikan pelatihan dan pendampingan. Sebagai UMKM di bawah naungan Rumah BUMN Jakarta Timur, Kebab Endul memanfaatkannya untuk ekspansi pasar dan penguatan operasional, dipuji oleh Direktur Mikro BRI Akhmad Purwakajaya sebagai pemanfaatan optimal. 

Di Indonesia, di mana UMKM menyumbang 60% PDB dan 97% tenaga kerja, inisiatif BRI ini mendukung program pemerintah seperti Kartu Prakerja dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pasca-pandemi.

Produk dan Dampak Ekonomi Lokal

Kebab Endul menyediakan varian mini kebab, daging sapi, keju, ayam, rendang, serta inovasi protein tinggi berbasis ikan lokal seperti bandeng boneless untuk pasar Bekasi dan Jabodetabek. 

Keberhasilan ini berkontribusi pada pemberdayaan perempuan pengusaha di Indonesia, di mana perempuan memimpin 30% UMKM, dan mendukung target SDGs 12 tentang konsumsi berkelanjutan. Secara nasional, model seperti ini memperkuat ketahanan ekonomi daerah, terutama di tengah fluktuasi harga bahan pangan yang dipantau BPS Indonesia.

 

Next Post Previous Post