China Resmikan Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan, Proyek Rp 1.760 Triliun Saingi Hong Kong
China telah meresmikan Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan (Hainan FTP), proyek raksasa senilai sekitar Rp1.760 triliun (US$113 miliar), yang dirancang untuk menyaingi Hong Kong sebagai pusat perdagangan global dengan pembebasan tarif dan regulasi bisnis yang lebih longgar.
Peluncuran resmi terjadi pada 18 Desember 2024 (beberapa sumber sebut 2025), memisahkan sistem bea cukai Hainan dari daratan China, sehingga 74% barang impor bebas tarif dan kategori barang bebas bea melonjak menjadi lebih dari 6.600 jenis. Lokasinya dekat Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menjadikannya gerbang strategis untuk integrasi rantai pasok regional.
Kebijakan Utama
Sistem kepabeanan khusus menerapkan prinsip "akses bebas di garis pertama" (dengan luar negeri) dan "pergerakan bebas di dalam pulau", sementara barang olahan dengan nilai tambah lokal >30% bisa masuk daratan China tanpa tarif. Kebijakan ini juga membuka akses layanan terbatas bagi asing, simplifikasi visa pekerja, dan insentif pajak untuk tarik investor multinasional ke kota seperti Haikou dan Sanya. Wakil PM He Lifeng menyebutnya sebagai "gerbang vital" keterbukaan China era baru.
Persaingan dengan Hong Kong
Hainan dipromosikan sebagai pelengkap Hong Kong di bidang keuangan, tapi bersaing langsung di perdagangan, pariwisata, dan logistik meski infrastruktur hukumnya masih tertinggal. Targetnya jadi pelabuhan berpengaruh global pada 2025, matang internasional 2035, dan puncak 2050, dengan prioritas pariwisata, teknologi tinggi, dan pertanian tropis.
Dampak bagi Indonesia
Sebagai platform kerjasama via RCEP, Hainan perkuat hubungan ekonomi China-Indonesia melalui perdagangan bebas dan R&D bersama, manfaatkan kedekatan geografis untuk ekspor RI. Minat investor global naik, tapi tantangan seperti tarif AS dan kekurangan talenta tetap ada.

