Harga Silver Antam Sabtu 31 Januari 2026: Turun Rp18.000/Gram
Harga perak batangan Antam kembali terkoreksi tajam pada perdagangan hari ini, Sabtu, 31 Januari 2026. Harga beli perak Antam merosot Rp18.000 ke level Rp54.750 per gram, seiring kejatuhan harga perak dunia yang tertekan penguatan dolar AS dan aksi jual besar-besaran di pasar komoditas.
Harga Silver Antam Terkini
Berdasarkan data terakhir, harga beli perak Antam hari ini berada di posisi Rp54.750 per gram, turun dari level sebelumnya yang masih di kisaran Rp72.750–Rp72.900 per gram pada akhir Januari 2026. Penurunan ini menghapus kenaikan tajam yang sempat membawa harga perak Antam ke rekor tertinggi sepanjang masa di atas Rp72.900 per gram pada 29–30 Januari 2026.
Di pasar global, harga perak spot ditutup anjlok sekitar 26,11 persen ke kisaran 85,30 dolar AS per ounce, sementara kontrak berjangka perak AS untuk Maret 2026 bahkan merosot lebih dalam hingga 31,37 persen ke sekitar 78,53 dolar AS per ounce. Koreksi ekstrem di pasar internasional ini menjadi salah satu pemicu utama turunnya harga perak Antam di dalam negeri.
Faktor Penyebab Harga Silver Antam Anjlok
Ada beberapa faktor yang mendorong kejatuhan harga perak Antam hari ini:
Penguatan dolar AS
Penguatan indeks dolar AS membuat harga komoditas yang dihargakan dalam dolar, termasuk perak, menjadi lebih mahal bagi pembeli non-dolar sehingga menekan permintaan dan mendorong aksi jual.
Koreksi setelah reli tajam
Sebelumnya, harga perak global sempat melonjak lebih dari 60 persen sepanjang Januari 2026 akibat defisit pasokan dan aksi beli berbasis momentum, yang mendorong harga perak Antam ke rekor tertinggi di atas Rp72.900 per gram. Setelah reli ekstrem, pasar cenderung mengalami koreksi tajam ketika investor merealisasikan keuntungan.
Aksi ambil untung dan volatilitas tinggi
Pasar perak dalam beberapa pekan terakhir memang menunjukkan volatilitas yang tinggi, dengan pergerakan naik-turun yang agresif, sehingga memicu aksi ambil untung berulang dari pelaku pasar.
Dampak Bagi Investor dan Kolektor
Penurunan harga hingga Rp18.000 per gram tentu menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi investor yang baru masuk di level harga puncak. Namun bagi investor jangka panjang dan kolektor logam mulia, koreksi tajam ini dapat menjadi kesempatan untuk melakukan akumulasi di harga yang lebih rendah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan investor:
Bagi yang memiliki horizon investasi menengah–panjang, perak masih sering dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak ekonomi, meski volatilitasnya lebih tinggi dibanding emas.
Investor yang sudah membeli di harga tinggi perlu mengevaluasi tujuan investasi, profil risiko, dan jangka waktu, bukan hanya terpaku pada pergerakan harian.
Bagi trader jangka pendek, volatilitas besar membuka peluang, tetapi juga meningkatkan risiko kerugian bila tidak disertai manajemen risiko yang disiplin.
Prospek Pergerakan Harga ke Depan
Analis memperkirakan harga perak ke depan masih berpotensi bergerak liar seiring perkembangan beberapa faktor utama seperti ketegangan geopolitik, arah kebijakan suku bunga bank sentral, serta pergerakan dolar AS. Jika ketegangan geopolitik AS–Iran atau Rusia–Ukraina meningkat, minat terhadap aset lindung nilai seperti emas dan perak bisa kembali menguat, sehingga berpeluang mengangkat harga.
Di sisi lain, bila dolar AS terus menguat dan sentimen risiko di pasar global membaik, tekanan jual pada perak bisa berlanjut sehingga harga berpotensi kembali menguji area support yang lebih rendah.
Dalam skenario teknikal, proyeksi pergerakan harga perak berjangka AS diperkirakan akan berada di kisaran support sekitar 62,20–45,88 dolar AS dan resistance di area 106,65–134,78 dolar AS, yang mencerminkan rentang pergerakan yang sangat lebar.

