INCO: Kuota Nikel Dipangkas! Peluang atau Ancaman Saham Vale?
Pemangkasan kuota produksi nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) untuk RKAB 2026 menjadi sekitar 30% dari yang diajukan, menciptakan tantangan operasional signifikan bagi emiten ini. Meski berpotensi menghambat pasokan bijih ke proyek hilirisasi strategis seperti IGP Pomalaa, Sorowako, dan Morowali, analis melihat peluang dari rebound harga nikel global dan status "green nickel".
Dampak Negatif
Kuota terbatas berisiko memperlambat progres proyek smelter, memaksa INCO beli bijih eksternal dengan harga lebih tinggi, dan tekan margin laba.
Produksi nasional nikel dipangkas ke 250-260 juta ton dari 379 juta ton sebelumnya, tingkatkan risiko hukum kontrak dengan mitra.
Kinerja 2026 diproyeksi stagnan karena volume pendapatan tertekan.
Peluang Positif
Produksi nikel matte 2025 capai 66.848 ton (naik 3% YoY), penjualan 67.351 ton (naik 2% YoY), dengan efisiensi biaya kuat.
Pemulihan harga nikel bisa redam dampak kuota dan dorong margin, ditambah monetisasi bijih saprolit berkadar tinggi.
Analis Korea Investment & Sekuritas serta BRI Danareksa rekomendasikan "beli" meski hati-hati volatilitas.
|
Aspek |
Prospek |
Risiko |
|
Jangka Pendek |
Stagnan volume, tapi laba positif via efisiensi |
Hambatan pasokan proyek |
|
Jangka Panjang |
Rebound harga nikel & green nickel premium |
Regulasi kuota & keterlambatan capex |
|
Target Harga |
Belum dirinci, tapi sentimen positif dominan |
Volatilitas komoditas |

