Jadwal Presiden Prabowo Teken Perjanjian Dagang dengan Trump Mundur ke Februari
Penundaan ini disebabkan oleh kebutuhan penyesuaian akhir pada beberapa poin negosiasi teknis, meskipun secara substansi kesepakatan sudah hampir final. Berita ini pertama kali disampaikan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada 28 Januari 2026, yang menegaskan bahwa proses tetap on track tanpa hambatan besar.
Latar Belakang Kesepakatan
Perjanjian ini merupakan kelanjutan dari joint statement bilateral RI-AS yang diumumkan akhir 2025, di mana kedua negara sepakat menurunkan tarif resiprokal impor dari 32% menjadi 19% untuk mendorong perdagangan bebas.
Awalnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan penandatanganan akan dilakukan pada pekan kedua Januari 2026, pasca-pertemuan dengan perwakilan USTR (United States Trade Representative) di Washington DC pada Desember 2025. Namun, jadwal bergeser karena kesibukan agenda kedua pemimpin dan fine-tuning klausul detail.
Alasan Penundaan
Penundaan ini murni administratif dan bukan karena ketidaksepakatan substansial. Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa tim negosiator masih mencari "titik temu akhir" pada isu-isu minor seperti mekanisme implementasi dan timeline eksekusi.
Selain itu, faktor eksternal seperti penjadwalan kunjungan resmi Prabowo ke AS dan kesiapan Trump pasca-pelantikan Januari 2025 turut memengaruhi. Pemerintah menjamin tidak ada risiko pembatalan, dan kesepakatan ini diprioritaskan sebagai salah satu pencapaian diplomasi ekonomi awal 2026.
Dampak Ekonomi bagi Indonesia
Kesepakatan ini diharapkan membuka peluang ekspor lebih besar untuk komoditas unggulan Indonesia seperti minyak sawit, tekstil, elektronik, dan produk pertanian ke pasar AS yang bernilai triliunan dolar.
Penurunan tarif akan meningkatkan daya saing produk RI hingga 13%, berpotensi menambah surplus perdagangan bilateral hingga miliaran dolar AS per tahun. Bagi pelaku usaha, ini berarti biaya logistik dan pajak impor lebih rendah, yang bisa merangsang investasi baru dari perusahaan AS di sektor manufaktur Indonesia.
|
Aspek |
Sebelum Kesepakatan |
Setelah Kesepakatan |
|
Tarif Resiprokal |
32% |
19% |
|
Ekspor RI ke AS (proyeksi 2026) |
$25 miliar |
$30-35 miliar |
|
Sektor Prioritas |
Tekstil, sawit, elektronik |
+Otomotif, agroindustri |
|
Manfaat Langsung |
- |
Penghematan $2-3 miliar/biaya impor |
Jadwal Terbaru dan Prospek
Target penandatanganan kini difokuskan pada minggu kedua Februari 2026, kemungkinan medio bulan, meski jadwal pasti pertemuan Prabowo-Trump belum dirilis secara resmi. Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan terus memantau perkembangan, dengan harapan dokumen final bisa disahkan sebelum akhir kuartal pertama.

