Kenaikan Harga Emas Dunia Tak Terbendung: Proyeksi Hingga Akhir Tahun dan Dampak ke Pasar RI
Proyeksi Hingga Akhir 2026
Bank Dunia memproyeksikan harga emas rata-rata mencapai US$3.575 per troy ons, naik 5% secara tahunan, meski bisa lebih tinggi jika konflik global eskalasi. Analis ICDX memperkirakan kisaran US$4.300–4.500 per ons, sementara J.P. Morgan menargetkan US$4.000 per ons, dengan fondasi kuat dari permintaan bank sentral dan lindung nilai inflasi. Saat ini (Januari 2026), harga sempat menyentuh hampir US$4.900 sebelum koreksi sementara ke US$4.805.
Dampak ke Pasar RI
Kenaikan emas dunia langsung terasa di harga emas Antam, yang mencapai Rp2.790.000 per gram pada 22 Januari 2026 setelah fluktuasi harian. Rupiah yang melemah memperparah, mendorong investor ritel beralih ke emas sebagai safe haven, tingkatkan buyback, dan potensi inflasi di sektor konsumsi. Namun, ini juga beri peluang bagi eksportir tambang emas RI meski pasar saham seperti IHSG tertekan oleh outflow modal.
Faktor Pendorong Utama
Ketegangan geopolitik (Timur Tengah, AS-Cina) picu permintaan aset aman.
Penurunan suku bunga The Fed dan pelemahan dolar AS.
Pembelian bank sentral global dan lindung nilai krisis utang.

