Mengapa Greenland Diperebutkan AS, Rusia, dan China: Es Mencair Ungkap Harta Karun Strategis
Greenland semakin diperebutkan oleh AS, Rusia, dan China karena mencairnya lapisan es akibat pemanasan global telah mengungkap potensi sumber daya alam bernilai triliunan dolar serta posisi strategis di Arktik yang krusial untuk militer, ekonomi, dan jalur perdagangan global.
Baca Juga: Presiden Trump Peras Eropa: Tarif 25% demi Kuasai Greenland
Cadangan Mineral dan Energi
Lapisan es Greenland yang mencair membuka akses ke deposit mineral kritis seperti uranium, zinc, emas, bijih besi, dan terutama rare earth elements (REE) yang esensial untuk baterai kendaraan listrik, elektronik, dan senjata canggih.
Estimasi nilai sumber daya ini mencapai ratusan miliar dolar, dengan potensi minyak dan gas alam hingga 50 miliar barel setara minyak, menjadikannya "harta karun" baru di tengah krisis energi global. China mendominasi pasar REE saat ini (sekitar 80% produksi dunia), sehingga Greenland menawarkan peluang bagi AS untuk mengurangi ketergantungan.
Jalur Laut Arktik Baru
Pencairan es membuka Northwest Passage dan Northern Sea Route, mempersingkat rute perdagangan Asia-Eropa hingga 40% dibandingkan Terusan Suez atau Panama, menghemat waktu dan biaya pengiriman.
Rusia memanfaatkan ini untuk memperluas pengaruh di Arktik dengan pangkalan militer baru, sementara China mendorong "Polar Silk Road" sebagai bagian dari Belt and Road Initiative untuk dominasi logistik global. Hal ini meningkatkan lalu lintas kapal komersial dan militer, dengan proyeksi peningkatan volume perdagangan hingga 2030.
Strategi Militer dan Geopolitik
AS, di bawah Presiden Trump yang terpilih kembali, mengajukan pembelian Greenland untuk mencegah Rusia membangun basis rudal dekat wilayah NATO dan menghalangi ekspansi China, mengutip keamanan nasional serta pencegahan agresi Rusia di Ukraina yang meluas ke Arktik.
Gedung Putih secara blak-blakan menyebut rivalitas dengan Rusia dan China sebagai pemicu utama, dengan Greenland sebagai "benteng" untuk radar pertahanan rudal dan pantauan satelit. Rusia telah meningkatkan aktivitas militer di Arktik sejak 2022, sementara China berinvestasi di pelabuhan dan pertambangan Greenland meski ditolak Denmark.
Dampak Lingkungan dan Tantangan
Pencairan es Greenland berkontribusi 20% kenaikan permukaan laut global, tapi ironisnya justru memicu perebutan karena aksesibilitas. Denmark sebagai pemilik menolak penjualan, sementara penduduk asli Inuit khawatir dampak eksploitasi terhadap ekosistem rapuh. Ketegangan ini berpotensi memicu konflik baru di Arktik, dengan NATO memperkuat latihan militer di wilayah tersebut.

