Mengapa Rupiah Menuju Rp17.000? Ini Penyebab Utamanya

Mengapa Rupiah Menuju Rp17.000? Ini Penyebab Utamanya
Rupiah melemah mendekati level Rp17.000 per dolar AS pada awal 2026 akibat tekanan berlapis dari faktor global dan domestik yang saling memperkuat. Pelemahan ini mencerminkan dinamika pasar keuangan yang volatile, di mana kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia memicu capital outflow signifikan. Bank Indonesia (BI) telah berupaya menstabilkan melalui intervensi, meski tantangan masih berlanjut hingga Januari 2026.

Faktor Global Utama

Eskalasi ketegangan geopolitik mendominasi pelemahan rupiah, termasuk konflik di Greenland yang memicu ketidakpastian energi global serta tensi Iran yang mengganggu pasokan minyak. 

Perang dagang UE-Cina semakin memperburuk sentimen risiko, mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS, di mana indeks DXY mendekati 100 poin. Kebijakan moneter The Fed yang hawkish, dengan potensi kenaikan suku bunga lagi, turut memperkuat greenback terhadap mata uang emerging markets seperti rupiah.

Faktor Domestik Kunci

Di dalam negeri, defisit APBN 2025 yang membengkak hingga 2,92% dari PDB dengan rasio utang membengkak menimbulkan kekhawatiran investor asing akan keberlanjutan fiskal. Kebutuhan valuta asing untuk pembayaran utang dan impor awal tahun, ditambah likuiditas berlebih yang diserap BI melalui Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI), menekan kurs lebih dalam. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksi di bawah target 6% meski ada stimulus fiskal juga gagal meyakinkan pasar, sementara tekanan musiman seperti dividen dan pembayaran pajak memperparah situasi.

Dampak Ekonomi Lokal

Pelemahan rupiah ini meningkatkan biaya impor barang pokok, bahan baku industri, dan BBM, yang berpotensi memicu inflasi impor hingga 0,5-1% dalam waktu dekat. Industri manufaktur dan eksportir mendapat tekanan ganda: biaya input naik sementara daya saing ekspor belum optimal akibat perlambatan permintaan global. 

Bagi masyarakat, harga kebutuhan sehari-hari seperti pangan dan transportasi diprediksi naik 5-10%, memengaruhi daya beli kelas menengah ke bawah di tengah program bansos yang terbatas.

Respons Kebijakan BI dan Pemerintah

BI merespons agresif dengan intervensi valas di pasar spot dan NDF offshore senilai miliaran dolar, serta pembelian SBN untuk menjaga yield obligasi tetap rendah.

 Sinkronisasi kebijakan dengan pemerintah melalui rapat terbaru fokus pada pengendalian defisit dan stimulus likuiditas, termasuk potensi kenaikan suku bunga acuan jika tekanan berlanjut. Analis memproyeksikan stabilisasi di Rp16.800-17.000 jika geopolitik mereda, tapi peringatan dini soal risiko jebol Rp17.500 tetap ada.

Next Post Previous Post