Mengapa Saham Emas Jadi Pilihan Investor Pintar di 2026? 5 Alasan Tak Terbantahkan
| (Foto Saham EMAS dari Google Finansial) |
Alasan 1: Safe Haven di Tengah Gejolak Global
Emas telah terbukti sebagai aset safe haven utama saat dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik, seperti ketegangan AS-China, konflik Timur Tengah, dan fragmentasi ekonomi global pasca-reeleksi Trump. Investor institusional besar, termasuk hedge fund, diam-diam mengakumulasi posisi emas untuk melindungi portofolio dari volatilitas saham teknologi dan aset berisiko tinggi. Di Indonesia, ini relevan dengan risiko rupiah melemah akibat impor energi dan utang luar negeri; emas digital seperti Pegadaian RTP menawarkan kemudahan akses tanpa biaya simpan fisik.
Alasan 2: Benteng Terhadap Inflasi Persisten
Inflasi global yang masih di atas target bank sentral (sekitar 3-4% di AS dan Eropa) terus menggerus daya beli mata uang fiat, sementara emas historically naik rata-rata 8-10% per tahun saat inflasi tinggi. Data 2025 menunjukkan emas tembus US$2.700/oz berkat stimulus fiskal Trump, dan proyeksi 2026 perkirakan stabil di US$2.800-3.000/oz. Bagi investor Indonesia yang terpapar inflasi pangan dan BBM, saham emiten emas seperti ANTM atau TINS jadi pilihan karena leverage terhadap kenaikan harga spot—artinya, saat harga emas naik 10%, laba emiten bisa melonjak 20-30%.
Alasan 3: Suku Bunga Rendah dan Kebijakan Moneter Longgar
Federal Reserve dan BI diprediksi pertahankan suku bunga rendah (Fed Fund Rate ~3-4%) untuk dukung pertumbuhan pasca-pandemi, menurunkan opportunity cost memegang emas non-yielding dibanding obligasi atau deposito. Ini dorong permintaan fisik dari China dan India (konsumsi 50% global), plus ETF emas yang naik 15% inflow tahun ini. Investor pintar alokasikan 10-20% portofolio ke saham emas untuk diversifikasi, terutama saat yield SBN RI turun dan saham blue chip fluktuatif.
Alasan 4: Aksesibilitas Digital dan Fleksibilitas Tinggi
Platform seperti Tokopedia Emas, Pegadaian Digital, dan Brimo tawarkan emas ritel dengan modal minim (Rp5.000), transparansi harga real-time dari LBMA London, dan fitur jual-beli 24/7 tanpa pajak PPh untuk transaksi kecil. Ini beda dengan emas fisik yang ribet logistik; RTP Emas 2026 bahkan beri yield tambahan via program kolektif. Bagi milenial dan Gen Z di Indonesia yang aktif di crypto tapi cari stabilitas, ini jadi bridge ideal—data menunjukkan transaksi emas digital naik 40% YoY.
Alasan 5: Fundamental Emiten Emas yang Kokoh
Emiten emas Indonesia punya biaya produksi rendah (US$800-1.000/oz vs harga spot US$2.700), neraca bersih tanpa utang berlebih, dan cadangan terbukti >10 tahun. Prospek 2026 cerah dengan eksplorasi baru di Papua dan Sulawesi, plus dukungan harga emas bullish dari defisit supply global (produksi stagnan di 3.500 ton/tahun). Bandingkan dengan saham lain: emiten emas beri dividend yield 4-6% plus capital gain, unggul saat IHSG sideways akibat slowing growth China.
Mengapa Investor Pintar Prioritaskan Sekarang?
Dengan proyeksi IMF pertumbuhan global 2.7% di 2026, emas tetap outperform aset lain untuk hedging. Strategi: Alokasikan 15% portofolio, pantau support US$2.600/oz, dan pilih emiten dengan ROE >15%. Risiko utama seperti penguatan dolar bisa dimitigasi diversifikasi.

