Pemulihan Manufaktur Indonesia di Awal Tahun: 5 Bukti Kuat yang Bikin Optimis

Pemulihan Manufaktur Indonesia di Awal Tahun: 5 Bukti Kuat yang Bikin Optimis

Pemulihan sektor manufaktur Indonesia di awal 2026 semakin terlihat jelas dengan berbagai indikator positif yang menunjukkan momentum optimisme di tengah tantangan global. Berikut pengembangan dari lima bukti kuat sebelumnya, dilengkapi data dan konteks lebih mendalam untuk gambaran yang lebih komprehensif.

Perusahaan Baru Mulai Produksi

Sekitar 1.236 perusahaan industri yang selesai dibangun sepanjang 2025 kini siap beroperasi pertama kali di 2026, terutama di subsektor kimia, makanan, dan tekstil. Langkah ini dipicu oleh kemudahan perizinan melalui OSS dan insentif pajak dari pemerintah, yang memperluas kapasitas produksi hingga 20% di kawasan industri utama seperti Jababeka dan Batam. Dampaknya, penyerapan tenaga kerja baru diperkirakan mencapai puluhan ribu orang, mendongkrak multiplier effect di rantai pasok lokal.

PMI Manufaktur Ekspansif

Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia stabil di atas 51 poin, dengan angka terbaru 51,2 yang mencerminkan peningkatan output, pesanan baru, dan stok barang. Faktor pendorong termasuk stabilisasi harga bahan baku dan kepercayaan eksportir berkat nilai tukar rupiah yang kompetitif. Dibandingkan akhir 2025, ini menandakan fase recovery pasca-pandemi yang berkelanjutan, dengan kontribusi signifikan dari subsektor otomotif dan elektronik.

Permintaan Domestik Menguat

Konsumsi dalam negeri menyumbang 80% pertumbuhan manufaktur melalui program substitusi impor, penerapan TKDN minimal 40%, dan prioritas pengadaan pemerintah untuk produk lokal. Contohnya, industri makanan-minuman tumbuh 6-7% didorong permintaan harian stabil, sementara hilirisasi nikel dan bauksit menambah ekspor berbasis manufaktur. Strategi ini juga mengurangi ketergantungan impor hingga 15%, memperkuat ketahanan ekonomi domestik.

Percepatan Anggaran Kemenperin

Kementerian Perindustrian mengalokasikan Rp2.112 triliun untuk 2026, difokuskan pada infrastruktur kawasan industri dan dukungan hilirisasi. Dana ini termasuk subsidi energi untuk UKM dan program pelatihan SDM industri 4.0, yang sudah mulai diserap cepat sejak Januari. Hasilnya, efisiensi produksi naik 10-15% di sektor prioritas, sejalan dengan target kontribusi manufaktur ke PDB mencapai 20%.

Proyeksi Pertumbuhan Diatas 5%

Kemenperin optimis sektor manufaktur tumbuh lebih dari 5% sepanjang 2026, didukung infrastruktur seperti tol dan pelabuhan baru, serta hilirisasi mineral. Subsektor makanan-minuman dan farmasi diprediksi jadi penggerak utama dengan margin stabil, sementara ekspor ke ASEAN dan Eropa naik berkat perjanjian dagang seperti I-EU CEPA. Risiko seperti fluktuasi energi global dimitigasi melalui diversifikasi energi terbarukan.

Next Post Previous Post