Penurunan Saham DEWA pasca-Melorotnya BUMI: Dampak Fundamental dan Strategi Buy?

Penurunan Saham DEWA pasca-Melorotnya BUMI: Dampak Fundamental dan Strategi Buy?
Saham DEWA mengalami penurunan signifikan pasca-melorotnya saham BUMI pada awal Januari 2026, terutama pada 13 Januari dengan koreksi hingga 10,13% ke Rp710 per saham, di tengah tekanan pasar jelang rebalancing MSCI. Penurunan ini bersifat sementara dan lebih didorong faktor teknikal seperti aksi jual besar-besaran serta notasi khusus BEI, bukan perubahan fundamental. Strategi buy bisa dipertimbangkan untuk jangka panjang mengingat prospek positif DEWA.

Penurunan Harga Saham

Penurunan Saham DEWA pasca-Melorotnya BUMI: Dampak Fundamental dan Strategi Buy?
(Foto Saham BUMI dari Google Finansial)
Saham DEWA terkoreksi tajam seiring BUMI dan BRMS pada 13 Januari 2026, dengan DEWA turun 10%+ karena volume jual tinggi mencapai Rp429 miliar. Faktor pemicu meliputi divestasi Chengdong Corporation di BUMI (Rp1,07 triliun) dan notasi "L" BEI akibat keterlambatan laporan keuangan DEWA. Meski demikian, sebelumnya DEWA sempat melonjak 76% dalam sebulan hingga Rp810.

Dampak Fundamental

Fundamental DEWA tetap solid dengan proyeksi laba bersih 2025E Rp336 miliar (naik signifikan YoY) dan 2026E hingga Rp789 miliar, didukung ekspansi alat berat serta struktur modal sehat (DER 0,48). Koreksi terkini tidak mengubah prospek operasional seperti subkontrak UNTR dan proyek mineral baru, meski ada keterlambatan laporan yang menimbulkan kekhawatiran sementara. Valuasi P/E forward 14,41 masih atraktif jika target tercapai.

Strategi Investasi

Analis merekomendasikan buy pada koreksi DEWA untuk trading jangka pendek (target Rp484-490 dari Rp450-460) atau hold jangka panjang dengan target lebih tinggi. Manfaatkan support Rp680-710 untuk akumulasi, hindari panic sell karena tren bullish long-term tetap utuh. Pantau rebalancing MSCI Februari 2026 sebagai katalis potensial masuk indeks.
 

Next Post Previous Post