Profil ESTI: Raksasa Tekstil Ever Shine Tex dan Prospek Gemilang di 2026
PT Ever Shine Textile Tbk (ESTI) dikenal sebagai raksasa tekstil Indonesia dengan sejarah panjang sejak didirikan pada 1974 dan IPO di BEI pada 1992, fokus pada produksi benang nilon dan kain sintetis untuk garmen, otomotif, serta dekorasi.
Perusahaan ini mengoperasikan pabrik besar-besaran dengan divisi benang melalui PT Prima Rajuli Sukses, menghasilkan produk inovatif seperti benang bertekstur, filamen, dan kain fungsional anti-air atau wicking yang mendukung ekspor dan pasar domestik. Meski menghadapi rasio hutang tinggi (DER 1,87) dan margin laba bersih sekitar 3,31%, ESTI tetap mencatatkan profitabilitas positif berturut-turut, menjadikannya pemain tangguh di tengah kompetisi tekstil Asia.
Sejarah dan Operasional
ESTI memulai sebagai produsen tekstil sintetis skala kecil sebelum berkembang menjadi eksportir utama, dengan kapasitas produksi mencapai ribuan ton per tahun untuk benang nilon dan kain campuran poliester.
Anak usahanya memperkuat rantai pasok, sementara strategi vertikal terintegrasi meminimalkan ketergantungan supplier luar negeri, yang krusial di era hilirisasi nikel dan ketenagakerjaan murah Indonesia. Pada 2016, laporan tahunan menyoroti ekspansi fasilitas dan komitmen sustainability, meski data terbaru 2025 masih menunjukkan valuasi murah dengan PBV 0,26x.
Kinerja Keuangan Terkini
| (Foto Saham ESTI dari Google Finansial) |
Tantangan utama termasuk fluktuasi harga minyak (bahan baku poliester) dan persaingan dari Vietnam-India, namun DER tinggi mencerminkan leverage untuk ekspansi. Investor ritel sering memuji dividen konsisten dan potensi re-rating saham di tengah IHSG bullish.
Prospek Gemilang 2026
Tahun 2026 menjanjikan bagi ESTI seiring proyeksi PDB Indonesia 5,5-6% didorong investasi Trump-era dan hilirisasi, yang tingkatkan permintaan tekstil lokal untuk ekspor garmen senilai miliaran dolar. Tren fashion berkelanjutan dan otomotif EV (bahan sintetis ringan) beri peluang, apalagi dengan valuasi undervalued yang tarik FII (foreign institutional investors). Risiko seperti banjir impor murah dapat dimitigasi via proteksi perdagangan RI, potensial dorong EPS growth 15-20% jika harga komoditas stabil.
Strategi dan Rekomendasi Investasi
ESTI rencanakan inovasi produk ramah lingkungan dan digitalisasi supply chain untuk kompetitif global, selaras tren 2026 seperti bisnis moncer di manufaktur.
Bagi investor seperti Anda yang pantau IHSG dan crypto, ESTI cocok portofolio defensif dengan target harga Rp200-250 (dari level saat ini), tapi pantau Q1 earnings Januari 2026. Diversifikasi dengan emas atau stablecoin tetap bijak di tengah volatilitas geopolitik.

