Rupiah Dekati 17.000, Indonesia Menunggu Langkah BI
Kondisi Terkini Rupiah
Nilai tukar USD/IDR mencapai Rp16.945 pada penutupan Selasa (20/1/2026), melemah 0,06% dan mendekati level psikologis 17.000, yang merupakan tertinggi 52-minggu. Data Bank BRI pagi 21 Januari menunjukkan kurs jual USD di Rp16.995, sementara level spot terpantau sekitar Rp16.931 pada 19 Januari. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan dolar global, kekhawatiran fiskal domestik, dan inflasi yang meningkat menjadi 2,92% (yoy) Desember 2025.
Ekspektasi Keputusan BI
Konsensus 13 lembaga dan survei Bloomberg (30 ekonom) memprediksi BI mempertahankan BI Rate di 4,75%, dengan deposit facility 3,75% dan lending facility 5,50%, seperti pada RDG Desember 2025. Alasan utama adalah tekanan rupiah yang kuat, membuat pelonggaran berisiko memperburuk depresiasi dan inflasi, meski pertumbuhan ekonomi domestik tetap terjaga. Pengumuman dijadwalkan hari ini, 21 Januari 2026, dengan BI kemungkinan mengandalkan intervensi devisa dan instrumen moneter lain.
Faktor Penekan
Tekanan eksternal: Dolar AS konsolidatif (DXY di bawah 100), tensi geopolitik, dan risiko perang dagang memengaruhi emerging markets.
Domestik: Inflasi makanan naik 4,58% (yoy), defisit fiskal, dan permintaan kuat menjelang Ramadan membatasi ruang pelonggaran.
Proyeksi: Rupiah diprediksi fluktuatif di Rp16.950-16.980 hari ini, dengan BI prioritaskan stabilitas tukar.

