Rupiah Jeblok, Analis Prediksi Bisa Sentuh Rp17 Ribu

Rupiah Jeblok, Analis Prediksi Bisa Sentuh Rp17 Ribu

Rupiah mengalami pelemahan tajam baru-baru ini, dengan analis memprediksi potensi mencapai Rp17.000 per USD atau bahkan lebih dalam waktu dekat akibat kombinasi faktor global dan domestik. Prediksi ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap volatilitas yang tinggi, di mana level Rp17.000 menjadi resistensi kunci yang sulit ditembus tanpa intervensi signifikan.

Update Nilai Tukar Terkini

Hingga 18 Januari 2026, rupiah tercatat di kisaran Rp16.918-16.950 per USD, menandai penurunan harian sekitar 0,18-0,25% dibandingkan penutupan sebelumnya. Proyeksi harian menunjukkan fluktuasi antara Rp16.840 hingga Rp17.000, dengan potensi overshoot jika tekanan jual berlanjut.

Pekan sebelumnya, nilai tukar sempat menyentuh Rp16.850 pada 14 Januari, memicu peringatan dini dari analis yang melihat momentum bearish semakin kuat.

Prediksi dan Skenario Analis

Analis Ibrahim Assuaibi dari Sucor Sekuritas memproyeksikan rupiah fluktuatif namun cenderung melemah ke Rp17.000 pada pekan ini, dengan skenario ekstrem mencapai Rp17.100 minggu depan jika kondisi global memburuk. Prediksi serupa datang dari peneliti lain yang memperkirakan penurunan hingga akhir bulan jika tidak ada stimulus kebijakan.

Di sisi lain, skenario terburuk melibatkan sentimen fiskal domestik yang membebani, berpotensi mendorong rupiah ke Rp17.500-Rp18.000 jika IHSG gagal bertahan di level support 10.000.

Faktor Penyebab Pelemahan

Geopolitik dan Perang Dagang Global: Ketegangan AS-Eropa serta konflik Timur Tengah menguatkan USD sebagai safe haven, membuat rupiah—sebagai emerging market currency—rentan terhadap capital outflow.

Sentimen Domestik: Kebijakan fiskal yang dianggap rapuh, defisit anggaran melebar, dan ketergantungan impor energi mendorong tekanan inflasioner yang memperlemah daya saing rupiah.

Pasar Regional: Rupiah menjadi salah satu mata uang terlemah di Asia Tenggara, dibandingkan dengan penguatan relatif ringgit Malaysia dan baht Thailand di tengah volatilitas serupa.

Respons Kebijakan dan Strategi Mitigasi

Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan menggelar intervensi agresif melalui spot market, forward, dan Non-Deliverable Forward (NDF) untuk membatasi depresiasi. Cadangan devisa yang masih kuat di atas 145 miliar USD memberikan ruang manuver, meski BI harus hati-hati agar tidak menguras amunisi terlalu cepat.

Pemerintah juga bisa menaikkan suku bunga acuan atau menerbitkan SBN valas untuk menarik inflow, sementara eksportir dihimbau percepat repatriasi devisa.

Next Post Previous Post