Saham DSSA Multibagger 2026: EBT, Data Center, dan Potensi Naik Signifikan
Saham PT Dharma Satya Sg (DSSA) memang menjadi sorotan utama di pasar saham Indonesia sebagai kandidat multibagger untuk 2026, terutama karena transformasi bisnisnya ke sektor data center dan infrastruktur digital yang sedang booming. Perusahaan ini, bagian dari grup konglomerat kuat, telah menunjukkan performa luar biasa sepanjang 2025 dengan kenaikan harga saham lebih dari 200% year-to-date, didukung oleh katalis seperti program pemerintah, aliran dana besar, dan tren AI global.
Latar Belakang DSSA
PT Dharma Satya Sg (DSSA) awalnya dikenal di sektor kelapa sawit dan komoditas, tetapi kini agresif diversifikasi ke megatrend masa depan seperti energi baru terbarukan (EBT) dan pusat data. Dukungan dari pemilik konglomerat memberikan akses modal besar, termasuk aliran dana Rp32 triliun yang mendorong harga saham tembus Rp150.000 per lembar pada 2025. Ini menjadikannya saham "hot" di IHSG, sejalan dengan rekan segrup seperti DCII dan CDIA yang juga melonjak hingga 900%.
Performa Keuangan 2025
Tahun 2025 menjadi titik balik bagi DSSA dengan kenaikan saham 210%, mengungguli indeks pasar berkat earnings yang solid dan spekulasi ekspansi. Earnings Before Tax (EBT) tumbuh signifikan dari bisnis inti sawit yang stabil plus kontribusi awal proyek digital, meski detail laporan keuangan terbaru menunjukkan margin laba bersih sekitar 20-25%. Volatilitas tinggi terlihat pada Agustus 2025 saat BEI menyoroti fluktuasi harga, tapi manajemen langsung klarifikasi dengan rencana proyek jumbo.
Ekspansi Data Center
Proyek pusat data senilai Rp1,22 triliun menjadi kartu as DSSA, dengan target operasional pertengahan 2026 yang pas dengan ledakan permintaan global akibat AI dan cloud computing. Kolaborasi dengan ekosistem digital pemerintah, termasuk program EBT, diprediksi tambah revenue stream baru hingga miliaran dolar AS. Tren 2026 di Asia Tenggara mendukung, di mana data center diproyeksi tumbuh 30% YoY karena investasi hyperscaler seperti Google dan AWS.
Proyeksi EBT dan Multibagger 2026
Analis Kiwoom memproyeksikan EBT DSSA melonjak 50-100% pada 2026 dari kombinasi data center operasional, rebalancing MSCI yang masuknya saham-saham ini, dan stimulus pemerintah untuk infrastruktur digital. Potensi multibagger (>250% kenaikan) realistis jika proyek on track, dengan target harga Rp300.000-400.000 per saham berdasarkan valuasi peer seperti DCII. Namun, prospek emiten data center secara keseluruhan dinilai terbatas oleh likuiditas rendah dan kompetisi ketat.
Faktor Pendukung Naik Signifikan
Aliran Modal: Dukungan grup konglomerat dan FII (Foreign Institutional Investor) via indeks MSCI bakal picu inflow besar.
Tren Global: Demand data center 2026 diprediksi redefinisi pasar EMEA dan Asia, dengan pembukaan proyek besar.
Aksi Korporasi: Potensi right issue atau akuisisi tambahan untuk scale up EBT, mirip strategi DCII.
Kebijakan RI: Program pemerintah seperti Digital Indonesia 2045 align sempurna dengan ekspansi DSSA.
Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski potensi upside tinggi, investor harus catat risiko volatilitas seperti kasus BEI 2025, di mana saham sempat anjlok 20% sebelum rebound. Likuiditas rendah di sektor data center lokal bisa hambat momentum, plus ketergantungan pada eksekusi proyek tepat waktu di tengah inflasi bahan baku. Kompetisi dari pemain besar seperti GOTO atau Telkom juga ancam market share.
Secara keseluruhan, DSSA layak jadi watchlist utama untuk portofolio agresif di 2026, terutama bagi investor yang paham risiko tinggi-reward tinggi di tema data center. Pantau update laporan keuangan Q1 2026 untuk konfirmasi momentum.

