Saham Emas 2026: Sudah Terlambat Masuk atau Masih Golden Opportunity?

Saham Emas 2026: Sudah Terlambat Masuk atau Masih Golden Opportunity?

Memasuki saham emas seperti EMAS di awal 2026 masih menawarkan peluang emas yang signifikan bagi investor ritel Indonesia, meskipun sudah ada rally kuat sepanjang 2025. Dengan harga emas dunia yang terus naik didorong faktor geopolitik dan moneter, saham terkait tambang seperti EMAS bisa memberikan return di atas pasar saham biasa (IHSG), tapi timing dan strategi sangat krusial untuk hindari FOMO.

Baca Juga: 8 Saham Emas Terbaik di BEI 2026: Daftar Lengkap MDKA, ANTM, UNTR hingga EMAS

Performa Terkini Saham EMAS

Saham Emas 2026: Sudah Terlambat Masuk atau Masih Golden Opportunity?
(Foto Saham Merdeka Gold dari Google FInansial)
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) kini bergerak di kisaran 6.175 IDR per saham, dengan gain harian 3,78% dan bulanan mencapai 25% per akhir Januari 2026.

Ini sejalan dengan lonjakan harga emas spot dunia yang tembus US$2.800 per ons, di mana EMAS sebagai produsen emas primer di Indonesia mendapat leverage langsung dari kenaikan harga komoditas.

Volatilitas tinggi terlihat dari all-time high 2.880 IDR pada September 2025, tapi pemulihan cepat pasca-koreksi menandakan fundamental kuat dengan tambang baru di Sulawesi yang mulai produksi penuh tahun ini.

Proyeksi Harga Emas 2026

Analis global seperti Goldman Sachs dan J.P. Morgan memprediksi emas bisa reli hingga US$4.000–5.300 per ons sepanjang 2026, didorong pembelian agresif bank sentral (terutama China dan India) serta pelemahan USD akibat kebijakan suku bunga rendah The Fed.

Di pasar domestik, proyeksi kenaikan 20% lagi realistis karena permintaan fisik emas Antam naik 15–20% YoY, ditambah stimulus ekonomi Jokowi era yang masih berlanjut meski ada transisi.

Risiko downside termasuk koreksi jika inflasi AS membaik atau yield Treasury naik, tapi tren jangka panjang bullish karena diversifikasi aset safe-haven di tengah ketidakpastian global.

Faktor Pendukung

Dampak ke Saham EMAS

Risiko Utama

Harga emas dunia >US$3.000/oz

Leverage 2–3x lebih tinggi dari emas fisik

Volatilitas harga komoditas

Produksi tambang 2026: 200.000 oz/tahun

Revenue projection Rp10T+

Delay operasional atau biaya capex overruns

Dividen potensial mulai 2032

Yield 5–7% untuk holder jangka panjang

Likuiditas rendah di IDX


Apakah Sudah Terlambat Masuk?

Belum terlambat sama sekali—ini justru golden opportunity bagi investor yang punya horizon 1–3 tahun, karena valuasi EMAS masih undervalued dibanding peer global seperti Newmont (P/E ~25x vs EMAS ~15x).
Banyak analis lokal setuju bahwa Januari 2026 adalah entry point bagus pasca-consolidasi akhir 2025, dengan target harga Rp8.000–10.000 jika emas tembus US$3.500.

Bagi pemula, hindari spekulasi harian; saham ini cocok untuk portofolio diversifikasi 10–20% alokasi komoditas, terutama bagi content creator seperti Anda yang track IHSG harian.

Strategi Investasi Optimal

Terapkan Dollar Cost Averaging (DCA): Beli Rp5–10 juta per bulan secara bertahap untuk rata-rata harga beli, target akumulasi saat dip <Rp6.000.
Diversifikasi: Alokasikan 50% saham EMAS, 30% emas fisik/digital via Pegadaian/Antam, 20% reksadana emas untuk lindungi dari risiko single-stock.

Pantau indikator: RSI EMAS saat ini ~65 (belum overbought), support kuat di Rp5.800; gunakan app RTI/Stockbit untuk alert, dan ikuti update bansos/inflasi yang bisa boost permintaan emas ritel.

Next Post Previous Post