Tips Praktis Mengelola Keuangan Pribadi Saat Inflasi dan Resesi
Mengelola keuangan pribadi saat inflasi dan resesi memerlukan disiplin ketat dengan fokus pada penghematan dan prioritas kebutuhan pokok. Strategi praktis mencakup pembuatan anggaran realistis serta pembangunan dana darurat minimal 6-12 bulan pengeluaran, sesuai dengan tabungan Anda saat ini sekitar 45 juta IDR dari gaji 5,7 juta IDR per bulan di Jakarta.
Buat Anggaran Realistis
Susun anggaran bulanan dengan membedakan kebutuhan pokok seperti sembako, listrik, dan transportasi dari keinginan seperti hiburan atau makan di luar. Gunakan aplikasi pencatat keuangan untuk memantau pengeluaran harian, prioritaskan staples seperti beras dan minyak goreng yang Anda pantau secara rutin. Kurangi pengeluaran impulsif untuk menjaga kestabilan di tengah kenaikan harga.
Bangun Dana Darurat
Alokasikan tabungan minimal 6-12 bulan pengeluaran esensial, seperti 3-6 juta IDR per bulan berdasarkan gaji Anda, untuk antisipasi PHK atau kehilangan pendapatan saat resesi. Simpan di instrumen likuid seperti deposito syariah yang aman dari inflasi. Ini krusial mengingat riwayat tabungan bulanan 500 ribu IDR Anda.
Kelola Utang Secara Bijak
Batasi rasio utang terhadap pengeluaran di bawah 20-30%, hindari pinjaman baru seperti PayLater, dan lunasi hutang prioritas untuk mengurangi beban bunga saat inflasi tinggi. Manfaatkan program pemerintah seperti KJP Plus atau BPJS jika memenuhi syarat di Jakarta. Fokus ini selaras dengan minat Anda pada bansos.
Cari Penghasilan Tambahan
Diversifikasi pendapatan melalui side hustle seperti content creation keuangan atau trading saham IHSG saat harga rendah, sesuai minat Anda pada saham seperti BUMI. Pantau kurs USD-IDR dan emas untuk peluang. Ini membantu keseimbangan saat pengeluaran naik.
Investasi Konservatif
Pilih aset anti-inflasi seperti emas atau saham defensif di IHSG, hindari spekulasi berisiko tinggi selama resesi global 2026. Alokasikan sebagian tabungan untuk instrumen stabil, sesuai tracking harga emas dan indeks Anda.

