Transaksi Saham BUMI Tembus Rp 1,73 Triliun, Sahamnya Justru Anjlok
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat transaksi jumbo Rp 1,73 triliun pada 15 Januari 2026, namun harga sahamnya malah anjlok 2,84% ke Rp 1.225 per lembar. Fenomena ini menarik karena volume transaksi mencapai 4,19 miliar lembar atau 6,16% dari total BEI, tapi tekanan jual mendominasi pasar. Penurunan lebih dalam terlihat dalam lima hari terakhir, dengan saham BUMI merosot 12,77% akibat aksi jual investor asing.
Konteks Transaksi
Transaksi BUMI menyumbang 8,92% dari total volume BEI dan menjadikannya penyumbang nilai tertinggi hari itu, di tengah IHSG yang naik 0,47% ke 9.075,406. Investor asing secara keseluruhan net buy Rp 947,45 miliar pada sesi itu, dengan akumulasi YTD 2026 mencapai Rp 7,3 triliun, tapi BUMI justru terdampak aksi profit taking besar. Pola ini mirip transaksi jumbo Rp 1 triliun pada November 2025, di mana harga beli sekitar Rp 1.300-1.400 per lembar.
Faktor Tekanan Harga
| (Foto Saham BUMI dari Google Finansial) |
Dampak ke Pasar
Meski BUMI dominan, pasar secara keseluruhan positif dengan net buy asing di saham blue chip lain, menunjukkan selektivitas investor. Harga BUMI kini di bawah MA-20, berpotensi test support Rp 1.200 jika tekanan berlanjut, tapi katalis seperti kenaikan harga batubara global bisa jadi pemicu rebound. Investor ritel di Indonesia, termasuk di Pekanbaru, sering monitor IHSG dan saham energi seperti ini untuk strategi short-term trading.
Prospek Jangka Pendek
Dengan fundamental BUMI yang bergantung pada batubara dan utang tinggi, volatilitas tinggi diharapkan; pantau laporan Q4 2025 akhir Januari untuk update produksi. Strategi investasi: akumulasi di bawah Rp 1.200 untuk long-term, atau swing trade berdasarkan volume. Tren IHSG bullish mendukung, tapi risiko geopolitik energi tetap ada.

