AMMN: Profil Lengkap Perusahaan Tambang Tembaga-Emas dan Prospek Rebound Kuat di 2026

AMMN: Profil Lengkap Perusahaan Tambang Tembaga-Emas dan Prospek Rebound Kuat di 2026

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) merupakan salah satu pemain utama di sektor pertambangan tembaga dan emas di Indonesia, beroperasi di tambang Batu Hijau, Sumbawa, NTB, sejak tahun 2000. 

Afiliasi Grup Salim ini terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp522 triliun, menjadikannya emiten tambang terkemuka berkat fundamental solid seperti DER 0,71x, NPM 36,55%, dan ROE 12,34%.

Profil Perusahaan

AMMN fokus pada eksplorasi, pengembangan, penambangan, pengolahan, peleburan, hingga pemurnian tembaga dan emas melalui anak usaha PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Tambang Batu Hijau adalah aset utama, yang pada 2024 mencatat rekor produksi emas melebihi target 7%, tembaga naik signifikan, serta konsentrat lebih tinggi 6% dari panduan. 

Perusahaan ini kini bertransformasi menjadi produsen terintegrasi dengan smelter tembaga yang mulai beroperasi akhir Maret 2025, mendukung hilirisasi mineral nasional.

Kinerja Keuangan Terkini

AMMN: Profil Lengkap Perusahaan Tambang Tembaga-Emas dan Prospek Rebound Kuat di 2026
(Foto Saham AMMN dari Google Finansial)
Pada kuartal I 2025, AMMN mengalami tekanan dengan rugi kotor USD 57 juta akibat transisi Fase 8 tambang yang menekan produksi konsentrat tembaga 55% YoY menjadi 80 ribu dmt, tembaga turun 62% ke 37 juta lbs, dan emas 81% ke 32 koz. 

Pendapatan bersih hanya USD 2 juta, mayoritas dari pengiriman konsentrat sebelumnya, meski volume material tambang naik 2%. Secara keseluruhan FY terbaru, pendapatan Rp42,2 triliun dan laba bersih Rp10,09 triliun, tapi 2025 diproyeksi rugi USD 133 juta sebelum rebound.

Tantangan Operasional

Fase 8 Batu Hijau menuntut pengupasan overburden dan ekstraksi bijih kadar rendah, menyebabkan penurunan volume produksi awal 2025. Smelter baru juga ramp-up lambat, dengan utilisasi rendah di Q1, meski rekomendasi ekspor konsentrat hingga April 2026 memberi kelonggaran. PBV 7,39x menunjukkan valuasi overvalued sementara, tapi beta rendah 0,52 menjanjikan stabilitas.

Prospek Rebound 2026

Tahun 2026 jadi titik balik dengan smelter capai utilisasi 93%, produksi katoda tembaga 205 ribu ton (naik 81,9% YoY), dan ekspansi kapasitas input dari 40 Mtpa ke 85 Mtpa. 

Ekspansi tambang ke 70 Mtpa, harga tembaga naik 20% per Februari 2026, plus akumulasi investor asing seperti BlackRock, dorong proyeksi pendapatan USD 4,04 miliar dan laba USD 1 miliar di H2. Pemulihan Fase 8 tingkatkan kadar bijih, ciptakan arus kas kuat dan pertumbuhan berkelanjutan.

Faktor Pendukung Jangka Panjang

Harga komoditas tinggi, operasi smelter penuh H2 2026, dan ekspor konsentrat jadi katalis utama, dengan potensi upside moderat bagi investor jangka panjang. 

AMMN unggul dibanding kompetitor global berkat hilirisasi, meski produksi tembaga RI 2026 berpotensi landai akibat isu Freeport. Fokus perbaikan FCF di semester I akan jadi sinyal rebound laba semester II.

 

Next Post Previous Post