Andi Amran Sulaiman: Dari 14 Ribu ke 112 Ribu Ton, Indonesia Siap Ekspor Beras
Indonesia berhasil mencapai tonggak sejarah dengan rencana ekspor beras perdana pada 2026, setelah puluhan tahun bergantung pada impor. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa serapan beras oleh Bulog melonjak drastis dari 14 ribu ton menjadi 112 ribu ton per bulan.
Lonjakan Produksi dan Serapan Beras
Serapan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) oleh Bulog naik lebih dari 700% pada Januari 2026, mencapai 112 ribu ton dari hanya 14 ribu ton di periode sebelumnya.
Peningkatan ini didorong oleh panen raya di berbagai daerah sentra padi, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan, berkat program percepatan tanam dan teknologi pertanian modern. Selain itu, perbaikan infrastruktur gudang dan pengeringan gabah kering panen (GKP) meminimalkan kerugian pasca-panen hingga di bawah 10%.
Stok CBP nasional kini tembus 3,25 juta ton, rekor tertinggi sejak kemerdekaan 1945, mengalahkan pencapaian era 1984 yang hanya 2 juta ton. Target pengadaan Bulog untuk tahun ini adalah 4 juta ton setara beras, dengan proyeksi produksi nasional mencapai 34,77 juta ton GKG di kuartal I saja.
Stok Nasional Berlimpah
Secara keseluruhan, stok beras nasional saat ini sekitar 12,5 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga enam bulan ke depan tanpa impor.
Indonesia telah resmi swasembada pangan, sehingga tak lagi bergantung pada pasokan luar seperti dari Thailand atau Vietnam. Badan Pangan Nasional (Bapanas) bahkan membuka peluang ekspor setelah serapan beras melonjak, dengan potensi pasar ke negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia.
Keyakinan Menteri Amran
Andi Amran Sulaiman optimis ekspor beras akan terealisasi tahun ini, menyebutnya sebagai momen bersejarah pertama sejak kemerdekaan. Ia menekankan ketahanan terhadap cuaca ekstrem berkat produksi yang naik 7 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Video pernyataannya viral di media sosial, memperkuat sentimen positif di kalangan petani dan pelaku usaha pangan.
Rencana ini juga didukung peningkatan fasilitas Bulog, termasuk gudang baru berkapasitas jutaan ton, serta koordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk lisensi ekspor. Jika terealisasi, ekspor perdana ini bisa bernilai miliaran dolar dan menguatkan posisi Indonesia di pasar global.

