Bitcoin Jeblok 32% dalam Setahun ke Rp1 M, Terkoreksi di Tengah Tekanan Pasar
Bitcoin mengalami penurunan signifikan sebesar 32% dalam setahun terakhir, dari puncak sekitar Rp1,6-2 miliar per BTC pada 2025 menjadi Rp1,09 miliar saat ini per 24 Februari 2026. Penurunan ini mencerminkan koreksi pasar kripto yang lebih luas, di mana BTC kini berfluktuasi di kisaran US$64.913 atau Rp1,09 miliar.
Penyebab Utama Penurunan
Tekanan makroekonomi menjadi pemicu utama, termasuk risiko pengetatan kebijakan Federal Reserve, potensi gelembung AI pecah, dan ketidakpastian geopolitik yang memicu risk-off di pasar global. Selain itu, likuidasi besar-besaran senilai ratusan juta dolar dari posisi overleveraged dan penjualan oleh miner untuk menutup biaya operasional memperburuk situasi, dengan likuiditas tipis di bursa mempercepat penurunan.
Dampak Pasar Saat Ini
Harga BTC telah turun 46% dari all-time high US$126.000 (Rp2,12 miliar) pada Oktober 2025, memicu penurunan altcoin hingga 44% dan sentimen bearish keseluruhan. Meski demikian, indikator seperti penurunan Sharpe Ratio menandakan potensi bottom siklus, dengan support kunci di US$60.000-Rp1 miliar.
Prospek ke Depan
Analis melihat peluang rebound jika likuiditas Fed membaik dan adopsi institusional berlanjut via ETF, dengan proyeksi US$110.000-Rp1,8 miliar pada akhir 2026. Investor disarankan monitor support US$58.000 dan hindari FOMO di tengah volatilitas tinggi.

