Emiten Jasa Pertambangan Ikut Terdampak Pemangkasan Produksi, Begini Prospeknya
Pemerintah melalui Kementerian ESDM telah memangkas kuota produksi batubara menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun signifikan dari 790 juta ton di 2025, serta bijih nikel menjadi 260-270 juta ton dari 379 juta ton.
Kebijakan ini tidak hanya memengaruhi produsen, tapi juga emiten jasa pertambangan seperti PT Darma Henwa (DEWA), PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Samindo Resources Tbk (MYOH) melalui penurunan volume overburden removal (OR) dan coal getting.
Dampak Langsung pada Emiten Jasa
Pemangkasan ini berpotensi menekan volume pekerjaan karena klien menyesuaikan rencana produksi mereka. Industri jasa pertambangan diperkirakan mengalami stagnasi aktivitas, dengan 20.000 alat berat berisiko terparkir dan 100.000 karyawan terdampak. Penambang juga meminta revisi kuota karena risiko operasional tidak layak secara ekonomi, termasuk kesulitan menutup biaya tetap dan kewajiban finansial.
Prospek dan Strategi Mitigasi
Meski volume turun, pembatalan kontrak kecil kemungkinannya berkat struktur jangka panjang yang menjaga tarif jasa stabil, meskipun margin bisa tertekan. Emiten dengan backlog kuat dan diversifikasi pelanggan seperti UNTR (via Pamapersada Nusantara), PTRO, dan DOID lebih tahan banting. Strategi mitigasi mencakup kerjasama dengan produsen tambang terdiversifikasi serta pengurangan capex untuk efisiensi.
|
Emiten Jasa Pertambangan |
Kekuatan Utama |
Risiko Utama |
|
UNTR (Pamapersada) |
Backlog kuat, diversifikasi |
Ketergantungan batubara |
|
PTRO (Petrosea) |
Kontrak jangka panjang |
Penurunan volume nikel |
|
DOID (BUMA) |
Pelanggan beragam |
Tekanan margin OR |
|
DEWA, MYOH |
Potensi penyesuaian volume |
Tambang marginal |
Peluang ke Depan
Pemangkasan bisa mendorong kenaikan harga batubara, membuka peluang kontrak baru meski volume lebih rendah. ESDM membuka peluang revisi kuota jika kondisi pasar membaik, yang bisa meringankan tekanan pada emiten jasa. Investor disarankan fokus pada emiten dengan diversifikasi bisnis untuk pertumbuhan kinerja optimal di tengah ketidakpastian.

