Harga Bitcoin (BTC) Tekoreksi Lagi, Pasar Kripto Tertekan Sentimen Saham AS

Harga Bitcoin (BTC) Tekoreksi Lagi, Pasar Kripto Tertekan Sentimen Saham AS

Bitcoin kembali mengalami koreksi harga signifikan pada Jumat, 13 Februari 2026 pagi WIB, turun 1,62% ke level $65.941 USD dari penutupan sebelumnya $67.025 USD. 

Penurunan ini sejalan dengan tekanan sentimen pasar saham AS yang melemah, khususnya indeks Nasdaq yang turun 1,2% akibat kekhawatiran inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed. Pasar kripto secara keseluruhan tertekan, dengan dominasi Bitcoin mencapai 57,2% namun volume perdagangan menurun menjadi $27,7 miliar dalam 24 jam.

Data Harga Terkini

Harga Bitcoin saat ini tepat $65.941,01 USD, dengan perubahan -$1.083,92 atau -1,62%.

Rentang harian mencatat low $65.065 dan high $68.383, sementara market cap mencapai $1,317 triliun USD—masih jauh di bawah puncak tahun ini $126.296 USD.

Di pasar Indonesia, BTC/IDR berada di kisaran Rp1,113 juta hingga Rp1,120 juta per koin, tergantung exchange seperti Indodax atau Bittime, dengan spread 1-2% akibat likuiditas lokal.

Analisis Teknis Koreksi

Harga Bitcoin (BTC) Tekoreksi Lagi, Pasar Kripto Tertekan Sentimen Saham AS
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)

Secara teknikal, Bitcoin memasuki fase konsolidasi sideways setelah gagal bertahan di atas $70.000, yang kini menjadi resistance utama.

Support krusial di $65.000 telah diuji berkali-kali, dengan moving average 50-hari di $85.764 dan 200-hari di $101.559 menandakan tren jangka panjang masih bearish.

Pola grafik harian menunjukkan volatilitas tinggi tapi volume moderat, menandakan akumulasi sebelum breakout—potensi naik ke $75.000 jika tembus resistance, atau turun ke $63.000 jika gagal.

Pengaruh Sentimen Saham AS

Pasar kripto terdampak langsung pelemahan saham teknologi AS, di mana Nasdaq anjlok karena laporan earnings APA Corporation yang turun 4,74% ke $26,92 USD.

Investor beralih ke aset safe haven seperti emas yang cetak rekor, sementara Bitcoin dan altcoin seperti Solana (turun 2,12% ke $77,55) ikut terkoreksi.

Faktor lain termasuk meredanya optimisme pasca-reeleksi Trump, dengan StanChart merevisi target BTC 2026 jadi $100.000 dari $150.000 sebelumnya.

Faktor Makroekonomi Pendukung Tekanan

Inflasi AS yang lebih tinggi dari ekspektasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi pemicu utama, mengurangi selera risiko pada aset kripto.

ETF Bitcoin mencatat inflow $500 juta minggu ini tapi tidak cukup lawan likuidasi global; historis Februari sering rebound musiman setelah Januari volatil.

Di Indonesia, investor lokal waspada dengan fluktuasi IDR/USD di Rp16.900, memengaruhi daya beli dan trading volume di platform seperti Pintu.

Dampak ke Altcoin dan Pasar Lokal

Solana ikut tertekan ke $77,55 USD dengan market cap $43,75 miliar, terdampak likuidasi DeFi di ekosistemnya.

Ethereum ambruk ke $1.900 di sesi sebelumnya, menunjukkan korelasi tinggi (0,85) dengan Bitcoin.

Investor Indonesia diuntungkan promo fee rendah di Indodax, tapi disarankan hindari FOMO dan gunakan stop-loss di support $64.500.

Proyeksi dan Strategi Trading

Prediksi Bittime: Konsolidasi berlanjut hingga akhir pekan, dengan skenario bullish ke $72.000 jika volume naik, atau bearish ke $63.000.

Strategi: Diversifikasi ke USDT, pantau data CPI AS Jumat ini, dan trading di exchange terverifikasi Bappebti untuk hindari risiko.

Jangka panjang, efek halving BTC dan deregulasi Trump tetap bullish, tapi volatilitas tinggi tuntut manajemen risiko ketat.

Next Post Previous Post