Harga Bitcoin Masih Rawan Turun, Tekanan Aksi Jual dan Sentimen Global Jadi Pemicu Utama

Harga Bitcoin Masih Rawan Turun, Tekanan Aksi Jual dan Sentimen Global Jadi Pemicu Utama

Harga Bitcoin baru-baru ini menyentuh level US$68.060 pada 26 Februari 2026, tapi penguatan ini dinilai rapuh karena tekanan jual dari investor jangka pendek belum mereda sejak koreksi akhir 2025. Sentimen global yang membaik akibat meredanya kekhawatiran perang dagang AS-China mendorong kenaikan sementara, namun arus dana institusional ke ETF Bitcoin masih inkonsisten.

Faktor Tekanan Jual

Investor masih melepas posisi rugi, mencerminkan kepercayaan yang belum pulih sepenuhnya terhadap tren naik Bitcoin. Whale besar di AS kerap melakukan profit-taking saat harga mendekati US$100.000, seperti terlihat pada Januari 2026 ketika BTC turun ke US$93.024. Kondisi ini diperparah likuiditas menurun dan volume jual tinggi di pasar derivatif.

Dampak Sentimen Global

Harga Bitcoin Masih Rawan Turun, Tekanan Aksi Jual dan Sentimen Global Jadi Pemicu Utama
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Pasar kripto sensitif terhadap risk-off mode, dipicu ketidakpastian makro seperti kebijakan suku bunga The Fed dan eskalasi tarif dagang. Gejolak geopolitik, termasuk isu Greenland dan pasar obligasi Jepang, juga menekan harga hingga di bawah US$90.000 awal 2026. Inflasi tinggi dan de-risking investor global makin memperburuk volatilitas.

Analisis Teknikal

Indikator RSI mulai keluar dari oversold, sinyal potensi dasar harga, tapi pasar dalam fase negative gamma yang liar terhadap sentimen eksternal. Untuk tembus US$70.000, butuh stabilitas makro dan aliran dana institusional konsisten; tanpa itu, koreksi lebih dalam berpotensi. Dominasi Bitcoin tetap kuat di 95%, tapi altcoin anjlok lebih dalam.

Prospek Jangka Pendek

Struktur pasar rapuh membuat reli saat ini rentan koreksi jika tekanan jual meningkat lagi. Investor disarankan pantau support US$68.000; bertahan bisa buka rebound, tapi jebol berisiko bearish menengah. Faktor eksternal seperti jam bursa AS dan kebijakan moneter tetap dominan.

 

Next Post Previous Post