Harga Emas Bertahan di Atas US$4.950, Dolar Melemah dan Investor Menanti Data AS
Harga emas dunia berhasil bertahan stabil di atas level US$4.950 per troy ounce pada Jumat (9/2/2026), didorong pelemahan indeks dolar AS (DXY) dan antisipasi data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Investor global semakin beralih ke emas sebagai aset safe haven di tengah gejolak ekonomi dan ketidakpastian geopolitik.
Faktor Pendukung Kenaikan Emas
| (Foto Harga Emas melalui laman TradingView) |
Dampak Pelemahan Dolar AS
Indeks DXY melemah akibat imbal hasil obligasi Treasury AS yang stabil di sekitar 4,085%, menurunkan biaya peluang memegang emas non-yielding. Hal ini mirip pola sebelumnya di mana dolar lemah mendorong emas ke US$4.050 pada November 2025.
Investor kini fokus pada data penggajian swasta AS dan indikator inflasi, yang bisa memengaruhi keputusan suku bunga The Fed. Data lemah berpotensi mempercepat kenaikan emas menuju US$5.000.
Prospek di Pasar Indonesia
Di Indonesia, harga emas Antam terkini mencapai Rp2.946.000 per gram pada 4 Februari 2026, naik Rp102.000 dari hari sebelumnya. Jika emas dunia bertahan di atas US$4.950 (setara kurs saat ini sekitar Rp16 juta per ons), harga lokal berpotensi menyentuh Rp2.950.000–Rp3.000.000 per gram.
Permintaan emas fisik domestik meningkat seiring ketidakpastian global, didukung cadangan bank sentral dan investasi ETF. Investor ritel di Indonesia disarankan pantau data AS untuk timing beli.
Outlook Mingguan
Emas diproyeksikan catat keuntungan mingguan positif, dengan support teknikal di US$4.900 dan resistance US$5.000. Faktor risiko termasuk penguatan dolar jika data AS lebih kuat dari ekspektasi.

