Investor Masih Serok Saham Bank RI: Ketangguhan di Tengah Badai Global

 

Investor Masih Serok Saham Bank RI: Ketangguhan di Tengah Badai Global

Di tengah gejolak pasar global yang dipicu oleh kenaikan suku bunga The Fed, ketegangan Timur Tengah, dan perlambatan ekspor China, investor justru semakin rakus menyikat saham bank-bank besar Indonesia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang terkoreksi 2,5% sejak awal tahun, tapi sektor perbankan malah jadi primadona. Volume transaksi saham BBCA, BBRI, dan BBNI melonjak 15-20% dalam dua minggu terakhir, menandakan kepercayaan tinggi pada ketangguhan fundamental perbankan RI.

Mengapa Investor Tak Gentar Badai Global?

Investor Masih Serok Saham Bank RI: Ketangguhan di Tengah Badai Global
(Foto Saham BBCA dari Google Finansial)
Ketidakpastian global memang mencekam. Indeks S&P 500 AS turun 1,8% minggu lalu, sementara Nikkei Jepang anjlok 3% akibat kekhawatiran resesi. Namun, saham bank Indonesia justru contrarian play favorit. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), net buy asing di sektor keuangan mencapai Rp 4,5 triliun sejak Januari 2026, tertinggi di antara semua sektor.

Alasannya sederhana: fundamental solid. Bank-bank besar RI punya rasio CASA (Current Account Saving Account) di atas 70%, NPL (Non-Performing Loan) rendah di kisaran 2-3%, dan pertumbuhan kredit mencapai 12% YoY. 

BI Rate yang stabil di 6% juga mendukung margin bunga bersih (NIM) tetap gemuk, rata-rata 5-6%. "Sektor perbankan jadi safe haven domestik karena ketergantungan pada ekonomi dalam negeri yang tumbuh 5,1% di 2025," kata analis senior Stockbit, Rina Wijaya.

Contoh nyata: Saham BBCA (Bank Central Asia) naik 8% dalam sebulan terakhir, didorong dividen jumbo Rp 300 per saham dan ekspansi digital banking. Investor asing seperti Vanguard dan BlackRock serok 500 juta lembar, meski IHSG goyah.

Data Transaksi: Serok Massal Terjadi

Saham

Kenaikan 1 Bulan (%)

Volume Transaksi (Rp T)

Net Buy Asing (Rp T)

BBCA

+8,2

25,5

2,1

BBRI

+6,5

18,2

1,4

BBNI

+7,1

12,8

0,9

BMRI

+5,9

10,3

0,1


Sumber: BEI & RTI Business, per 24 Februari 2026

Investor ritel lokal juga ikut serok via aplikasi seperti Ajaib dan Bibit. "Di saat global panic selling, saham bank RI undervalued dengan PER 12-14x, jauh di bawah rata-rata historis 16x," tambah Wijaya.

Faktor Pendukung: Kebijakan BI dan Ekonomi Domestik

Bank Indonesia (BI) berperan besar. Dengan cadangan devisa US$150 miliar dan intervensi valas, rupiah stabil di Rp 15.800/USD. Kebijakan stimulus fiskal pemerintah, seperti subsidi BBM dan insentif UMKM, jaga daya beli masyarakat – pondasi utama kredit konsumsi bank.

Belum lagi transformasi digital: 60% transaksi bank kini via mobile, kurangi biaya operasional. BBRI, misalnya, raih 25 juta user baru di BRImo tahun lalu. "Ini buffer kuat lawan resesi global," ujar ekonom Mandiri Sekuritas, Andi Susanto.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Tentu, bukan tanpa tantangan. Kenaikan BI Rate potensial ke 6,5% bisa tekan pertumbuhan kredit, sementara fluktuasi harga komoditas (minyak naik 10% akibat konflik) racuni NPL korporasi. Tapi, valuasi murah dan yield dividen 4-5% bikin saham ini tetap menarik untuk hold jangka panjang.

Kesimpulan: Strategi Investor Cerdas

Investor yang serok saham bank RI saat ini main pintar: diversifikasi ke aset defensif di tengah badai global. Proyeksi analis: Sektor ini bisa kontribusi 25% kenaikan IHSG di semester II 2026, asal BI Rate terkendali. Bagi pemula, mulai dari ETF LQ45 atau blue chip seperti BBCA.
Next Post Previous Post