Pakar Energi Dukung Menteri ESDM Bangun PLTN di Indonesia
Pakar energi di Indonesia, seperti Prof. Muhammad Bachtiar Nappu dari Universitas Hasanuddin, mendukung rencana Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) guna memperkuat ketahanan energi nasional. Dukungan ini muncul karena PLTN berbasis Small Modular Reactor (SMR) dianggap cocok untuk geografi kepulauan Indonesia, fleksibel untuk wilayah terpencil, dan ramah lingkungan dengan risiko rendah berkat teknologi terkini.
Latar Belakang Rencana
Kementerian ESDM memasukkan PLTN dalam RUPTL 2025-2034 dengan target 500 MW, didukung MoU dengan negara seperti Rusia, China, AS, dan Korea Selatan untuk transfer teknologi. Menteri Bahlil dijadwalkan kunjungan ke Rusia guna memperdalam kerjasama SMR, sejalan dengan komitmen Net Zero Emission.
Alasan Dukungan Pakar
Teknologi SMR (50-100 MW) lebih aman dan bertahap dibanding PLTN konvensional 1.000 MW, ideal untuk elektrifikasi daerah terpencil.
Nuklir unggul dalam densitas energi tinggi, stabil, dan emisi karbon rendah dibanding fosil, meski ada isu lingkungan yang dibantah pakar.
Survei ESDM tunjukkan >70% masyarakat setuju pembangunan PLTN.
Manfaat Strategis
PLTN dianggap kunci transisi energi bersih, swasembada, dan pangkas emisi, dengan pakar dari berbagai universitas seperti Unhas dan Uns menekankan eksekusi segera. Pemerintah prioritaskan keamanan, SDM, dan mitra teknologi maju.

