Perlunya Konsep Indonesia Incorporated untuk Dorong Permintaan Kredit

Perlunya Konsep Indonesia Incorporated untuk Dorong Permintaan Kredit
Ekonomi Indonesia saat ini menghadapi paradoks klasik di sektor perbankan: Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh pesat mencapai Rp10.059 triliun per akhir 2025 (naik 13,83% yoy), sementara kredit yang tersalurkan baru Rp8.586 triliun (tumbuh 9,63% yoy). 

Artinya, ada potensi kredit tak tersalur Rp2.400 triliun yang mengendap, padahal target pertumbuhan kredit 2026 ditetapkan 10-12% untuk dukung PDB 5,2%.

Masalah utamanya bukan supply kredit, melainkan demand yang lemah akibat ketidakselarasan kebijakan antar kementerian/lembaga, sehingga sektor riil kurang optimis ekspansi.

Apa Itu Indonesia Incorporated?

Konsep "Indonesia Incorporated" dipinjam dari model sukses negara maju seperti Korea Selatan (chaebol-driven growth), Jepang (keiretsu), dan Singapura (government-linked companies). Ini adalah pendekatan holistik di mana pemerintah, BUMN, swasta, dan regulator berperan sebagai satu entitas terintegrasi ("satu perusahaan Indonesia").

Fokusnya orkestrasi kebijakan di empat pilar: industri, investasi, perdagangan, dan pembiayaan. OJK usul semua stakeholder review ulang regulasi agar kebijakan tak bertabrakan, ciptakan efek multiplier pada permintaan kredit. Misalnya, kebijakan insentif investasi infrastruktur harus sinkron dengan kemudahan kredit UMKM dan ekspor.

Urgensi untuk Dorong Permintaan Kredit

Perlunya Konsep Indonesia Incorporated untuk Dorong Permintaan Kredit

Ciptakan Demand Berkelanjutan: Tanpa integrasi, likuiditas bank hanya jadi "parkir dana" bukan pendorong growth. Konsep ini pastikan proyek strategis nasional (PSN) seperti IKN dan food estate punya pipeline pembiayaan jelas, tarik kredit hingga Rp1.000 triliun baru.

Atasi Asimetri Informasi: Bank ragu salurkan kredit ke sektor riil karena risiko tinggi dan kurang data. Indonesia Incorporated fasilitasi rating kredit terpadu via Lembaga Pemeringkat Kredit (LPK), seperti yang pernah diusung OJK untuk UMKM.

Target Pertumbuhan Dua Digit: Dengan sinergi, pertumbuhan kredit bisa geber 12% di 2026, kontribusi 1,5-2% ke PDB. Ini krusial pasca-pandemi dan gejolak global seperti perang dagang AS-China.

Optimalkan Likuiditas: Bank punya excess liquidity Rp400-500 triliun; konsep ini alirkan ke sektor produktif seperti hilirisasi nikel, energi hijau, dan digital economy.

Contoh Sukses Global

Korea Selatan: Model "Korea Incorporated" di era Park Chung-hee integrasikan Samsung, Hyundai dengan kebijakan ekspor, hasilkan miracle on the Han River (PDB per kapita US$1.700 ke US$35.000 dalam 40 tahun).

Singapura: Temasek Holdings koordinasikan investasi negara, dorong kredit produktif hingga 150% PDB.

Indonesia bisa adaptasi dengan BUMN sebagai anchor, swasta sebagai engine, dan OJK/BI sebagai navigator.

Tantangan dan Langkah Implementasi

Meski potensial, tantangan utama adalah ego sektoral dan birokrasi lambat. OJK tekankan komitmen "all-in" dari Kemenko Perekonomian, Kemenkeu, dan Kemenperin. Langkah konkret:

Bentuk task force lintas kementerian dipimpin Wakil Presiden.

Revisi POJK tentang kredit PSN agar lebih agile.

Kampanye "Credit for Growth" libatkan asosiasi industri.

Secara keseluruhan, Indonesia Incorporated bukan gimmick, tapi necessity untuk transformasi ekonomi dari konsumsi ke investasi-driven. Jika terealisasi, ini bisa jadi game changer capai Indonesia Emas 2045 dengan fondasi perbankan kuat dan inklusif.

Next Post Previous Post