Saham EDGE Bakal Go Private, Likuiditas Turun, Profit Terus Naik Signifikan
PT Indointernet Tbk (EDGE), emiten data center yang baru 5 tahun melantai di BEI, mengajukan go private melalui delisting sukarela. Perdagangan sahamnya resmi disuspensi mulai 10 Februari 2026.
Alasan Utama Go Private
Manajemen EDGE menyebut dua faktor krusial: pertama, menyederhanakan pengambilan keputusan grup usaha; kedua, likuiditas saham rendah membuat status terbuka kurang efektif. Free float hanya 7,9%, dengan mayoritas saham (89,1%) dikuasai Digital Edge (Hong Kong) dan asing hingga 99,6%.
Proses ini juga beri kesempatan keluar adil bagi pemegang saham publik. Sebelum suspensi, harga saham Rp4.790, turun 5,62% seminggu tapi YTD naik 6,21%.
Masalah Likuiditas
| (Foto Saham EDGE dari Google Finansial) |
Fluktuasi 3 bulan terakhir capai 10,37% ke Rp7.450 sebelum turun lagi, tunjukkan volatilitas tinggi di tengah volume rendah.
Kinerja Keuangan Membaik
Meski go private, profit EDGE terus naik signifikan di tengah persaingan data center ketat. Sektor ini tumbuh, tapi EDGE pilih fokus integrasi bisnis daripada bursa. Laporan fundamental tunjukkan tren positif, meski data terbaru soroti efisiensi operasional.
|
Aspek Keuangan |
Tren Terbaru |
Catatan |
|
Likuiditas Saham |
Turun tajam |
Free float minim, trading jarang |
|
Harga Saham |
Rp4.790 (pra-suspensi) |
YTD +6,21% |
|
Profitabilitas |
Naik signifikan |
Kinerja membaik terus |
|
Kepemilikan |
89,1% Digital Edge |
Asing dominan |
Go private ini strategis buat EDGE di era digital, prioritaskan ekspansi daripada likuiditas bursa.

