Starlink Dorong Pertumbuhan SpaceX dengan Rencana Ponsel dan Layanan Internet Baru
SpaceX, di bawah kepemimpinan Elon Musk, sedang mempersiapkan strategi ekspansi besar-besaran untuk divisi Starlink menjelang IPO yang diantisipasi tahun ini. Layanan internet satelit ini telah menjadi penyumbang utama pendapatan perusahaan, dengan lebih dari 9 juta pengguna global.
Baca Juga: Daftar Harga Lengkap Starlink Februari 2026: Mulai Rp479 Ribu untuk Residensial
Rencana Pengembangan Ponsel Starlink
SpaceX berencana meluncurkan perangkat mobile sendiri yang terhubung langsung ke jaringan satelit Starlink, berpotensi bersaing dengan smartphone konvensional. Meski Elon Musk membantah sedang mengembangkan ponsel, sumber internal menyebutkan perangkat ini dioptimalkan untuk kinerja AI dengan neural nets.
Perusahaan telah mengajukan merek dagang "Starlink Mobile" dan paten teknologi konektivitas untuk perangkat kecil bergerak. Ini berbeda dari kemitraan Starlink dengan T-Mobile untuk layanan direct-to-cell.
Ekspansi Layanan Direct-to-Device dan Pelacakan Ruang Angkasa
Sekitar 650 satelit Starlink saat ini dirancang untuk layanan direct-to-device, menjanjikan cakupan seluler penuh di seluruh Bumi. Analis memprediksi pasar ini bernilai miliaran dolar dalam beberapa tahun ke depan.
SpaceX juga menjajaki layanan pelacakan ruang angkasa, memperluas portofolio di luar broadband internet dan kontrak pemerintah seperti Starshield. Roket Starship akan krusial untuk meluncurkan satelit V3 yang lebih besar, meningkatkan kapasitas jaringan secara dramatis.
Prestasi Finansial dan Akuisisi Strategis
Tahun lalu, Starlink menyumbang 50-80% dari pendapatan SpaceX senilai $15-16 miliar, dengan profit $8 miliar. Akuisisi spektrum satelit EchoStar seharga $19,6 miliar memperkuat posisi SpaceX sebagai pelengkap bagi operator seperti Verizon dan AT&T.
Dengan jaringan 9.500 satelit yang dibangun dalam enam tahun, Starlink mendominasi operator satelit terbesar dunia. IPO SpaceX tahun ini bisa memanfaatkan momentum ini untuk valuasi lebih tinggi.
Dampak bagi Pasar Indonesia
Di Indonesia, Starlink berpotensi merevolusi akses internet di daerah terpencil seperti Sumatra Utara. Layanan direct-to-cell bisa bersaing dengan provider lokal, meski tantangan regulasi dan produksi perangkat tetap ada.

