Telegram Hadapi Denda Besar di Rusia
Latar Belakang Konflik
Telegram, didirikan oleh pengusaha Rusia kelahiran Pavel Durov, menjadi saluran penting bagi komunikasi pribadi dan publik di Rusia. Platform ini digunakan oleh berbagai pihak, mulai dari Kremlin hingga oposisi di pengasingan, untuk menyebarkan informasi secara cepat ke audiens luas. Regulator komunikasi Rusia, Roskomnadzor, telah memberlakukan pembatasan sebelumnya seperti pada panggilan suara dan video sejak Agustus lalu, serta menuntut perlindungan data pribadi dan pencegahan penipuan.
Dampak bagi Pengguna Rusia
Pengguna di Rusia melaporkan perlambatan layanan Telegram, memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat. Seorang warga Moskow bernama Anna menyatakan, "Sangat buruk karena semua teman dan keluarga saya pakai Telegram. Saya tidak tahu bagaimana berkomunikasi tanpa pindah platform." Selain denda baru, ada juga tuntutan untuk mengumpulkan 9 juta rubel dari denda sebelumnya yang belum dibayar.
Implikasi Lebih Luas
Langkah ini bagian dari upaya Rusia membatasi platform asing yang dianggap tidak patuh, mirip dengan pembatasan pada WhatsApp dan FaceTime. Meski begitu, Telegram tetap populer karena perannya dalam berbagi berita instan, meskipun menghadapi pengawasan ketat atas konten anti-pemerintah. Hingga Februari 2026, situasi ini menandai eskalasi regulasi digital di Rusia.

