Ancaman Impor BBM dan LPG Kian Nyata, DEN Desak Percepatan Elektrifikasi untuk Ketahanan Energi
Indonesia menghadapi ancaman serius dari ketergantungan impor BBM dan LPG akibat konflik geopolitik global, seperti penutupan Selat Hormuz. Dewan Energi Nasional (DEN) mendesak percepatan elektrifikasi untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Latar Belakang Masalah
Ketergantungan impor BBM dan LPG membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga dan gangguan pasokan global. Produksi LPG lokal minim, dengan kebutuhan tahunan sekitar 7,3-7,8 juta ton yang mayoritas diimpor dari Timur Tengah.
Respons Pemerintah
Pemerintah mengalihkan impor minyak mentah dari Timur Tengah (20-25%) ke AS, Angola, dan Brasil, sementara LPG 70% dari AS. Cadangan BBM nasional aman untuk 23 hari, melebihi standar minimum 21 hari, meski storage menjadi kendala.
Solusi Elektrifikasi
DEN mendorong kompor listrik untuk rumah tangga dan kendaraan listrik untuk transportasi guna kurangi impor. Ini sejalan dengan pemanfaatan energi terbarukan seperti surya dan angin, serta tingkatkan diversifikasi energi domestik.
Dampak Geopolitik
Konflik AS-Israel-Iran dan penutupan Selat Hormuz (20,1 juta barel/hari) picu lonjakan harga minyak dunia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia imbau hindari panic buying, karena pasokan BBM-LPG terjamin hingga Lebaran.

