Bitcoin Melonjak Setelah Presiden Trump Tunda Serangan ke Iran

Bitcoin Melonjak Setelah Presiden Trump Tunda Serangan ke Iran

Bitcoin menguat tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer ke fasilitas energi dan infrastruktur Iran selama lima hari, disertai kabar dimulainya pembicaraan dengan Teheran. 

Harga leading cryptocurrency ini naik lebih dari 5%, sempat menyentuh sekitar 71.400–71.800 dolar AS di pasar New York sebelum sedikit melemah kembali, sementara aset kripto lain seperti Ether dan Solana juga mengalami kenaikan serupa.

Gejolak Geopolitik dan Sentimen Pasar

Bitcoin Melonjak Setelah Presiden Trump Tunda Serangan ke Iran
(Foto Harga Bitcoin dari TradingView)
Sebelum pengumuman Trump, Bitcoin sempat tertekan karena ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah konflik Iran berlangsung sejak akhir Februari 2026, bahkan sempat jatuh ke level terendah sekitar 67.371 dolar AS—yang merupakan posisi terendah dua minggu terakhir. 

Pergerakan harga kripto itu sangat terkorelasi dengan volatilitas harga minyak dan indeks saham, karena pelaku pasar khawatir konflik bisa mengganggu jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz dan memicu risk-off global.

Dampak ke Aset Riset dan Pasar Dunia

Pernyataan Trump untuk menunda serangan dan memasuki pembicaraan dengan Iran memicu lonjakan indeks saham berjangka seperti S&P 500 yang naik sekitar 2,3%, serta kenaikan aset risiko lain seperti obligasi dan mata uang berisiko. Di sisi lain, harga minyak dan dolar AS sedikit melemah karena kecemasan eskalasi perang berkurang, sementara risk‑on sentiment kembali merayap ke pasar kripto dan ekuitas global.

Prospek Bitcoin Jangka Pendek

Para analis melihat bahwa setiap upaya de‑eskalasi konflik Timur Tengah dapat menjadi katalis penting bagi pemulihan harga Bitcoin, karena konsolidasi harga minyak dan stabilitas jalur pengiriman bisa memperkuat risk appetite investor. 

Namun, jika pemerintah AS kembali mengancam aksi militer atau konflik berlanjut, tekanan turun pada Bitcoin bisa kembali muncul, mengingat volatilitas kripto masih sangat sensitif terhadap geopolitik dan kebijakan moneter AS.

 

Next Post Previous Post