Daftar Negara Terapkan WFH untuk Hemat BBM, Kebijakan Pandemi Kembali Diberlakukan
Beberapa negara Asia menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) dan pemangkasan jam kerja untuk menghemat BBM di tengah krisis energi global akibat konflik Timur Tengah. Kebijakan ini mirip era pandemi Covid-19, meski kini fokusnya pada lonjakan harga minyak, bukan wabah penyakit.
Latar Belakang Krisis
Harga minyak dunia melonjak tajam sejak awal 2026, memaksa pemerintah berbagai negara ambil langkah darurat penghematan energi. Indonesia pun mempertimbangkan langkah serupa, dengan Presiden Prabowo mendorong kajian WFH berdasarkan pengalaman pandemi yang terbukti tekan konsumsi BBM signifikan.
Daftar Negara dan Kebijakannya
Berikut negara-negara yang sudah terapkan kebijakan WFH atau serupa untuk hemat BBM:
|
Negara |
Kebijakan Utama |
Dampak yang Diharapkan |
|
Thailand |
WFH bagi PNS, naikkan suhu AC kantor ke 26°C, batasi perjalanan dinas
luar negeri |
Penghematan listrik & BBM besar |
|
Filipina |
Sistem kerja 4 hari/minggu untuk kantor pemerintah, kurangi perjalanan
dinas |
Hemat energi 10-20% |
|
Vietnam |
Imbauan WFH swasta, hapus bea masuk minyak |
Stabilkan harga & pasokan BBM |
|
Pakistan |
WFH 50% pegawai negeri/swasta, 4 hari kerja, potong fasilitas
kendaraan dinas |
Tekan anggaran & konsumsi BBM |
|
Myanmar |
Pangkas jam kerja & dorong WFH |
Respons cepat lonjakan harga |
Kebijakan ini diterapkan sejak awal Maret 2026, terutama di Asia Tenggara dan Selatan.
Mirip Kebijakan Pandemi?
Meski bentuknya serupa—WFH massal dan batas aktivitas kantor—alasannya beda: pandemi dulu cegah penyebaran virus, sekarang atasi defisit energi. Pengalaman WFH Covid-19 jadi acuan sukses hemat BBM hingga puluhan persen di banyak negara.
Respons Indonesia
Pemerintah RI masih kajian mendalam soal WFH nasional, khawatir dampak negatif pada roda ekonomi seperti saat pandemi. Alternatif lain digenjot: percepatan B50 dan E20 untuk kurangi ketergantungan impor BBM.
Analisis Dampak
Kebijakan ini potensial tekan emisi karbon dan biaya transportasi, tapi butuh infrastruktur digital kuat agar produktivitas tak turun. Di Indonesia, sektor swasta seperti tech dan media (termasuk content creator) bisa adaptasi cepat berkat pengalaman hybrid work pasca-pandemi.

