ESDM Setujui RKAB 150 Perusahaan Nikel Jelang Batas Relaksasi

ESDM Setujui RKAB 150 Perusahaan Nikel Jelang Batas Relaksasi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus mempercepat persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) untuk komoditas nikel tahun 2026, memberikan kepastian bagi industri pertambangan. Hingga pertengahan Maret 2026, kuota produksi bijih nikel yang disetujui telah mencapai sekitar 100 juta ton, dengan target penyelesaian seluruh RKAB hingga akhir bulan.

Target Produksi Nikel 2026

Pada Februari 2026, ESDM resmi menerbitkan RKAB nikel dengan kuota produksi bijih nikel di kisaran 260-270 juta ton, turun signifikan dari 379 juta ton pada 2025. 

Penurunan ini bagian dari strategi penyesuaian renstra Dirjen Minerba untuk menjaga keberlanjutan sumber daya. Pemerintah menargetkan percepatan hingga 100-an RKAB nikel rampung akhir Maret, mendukung operasional terbatas berdasarkan Surat Edaran Dirjen Minerba No. 2.E/HK.03/DJB/2025.

Konteks Lebih Luas dengan Batubara

ESDM juga menyetujui RKAB batubara hingga 390 juta ton per 17 Maret 2026, mendekati target nasional 600 juta ton, meski ada pemangkasan dari rencana awal 733 juta ton. 

Perusahaan seperti PT Bukit Asam (PTBA) mendapat kuota 53,2 juta ton, menunjukkan komitmen pemangkasan produksi untuk stabilitas pasar. Penyesuaian ini menjawab kekhawatiran pelaku usaha soal perbedaan target renstra dan RKAB.

Dampak bagi Industri Nikel Indonesia

Persetujuan RKAB ini krusial bagi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia, memastikan pasokan untuk baterai kendaraan listrik sambil menjaga lingkungan. 

Percepatan ini beri sinyal positif bagi investor, meski kuota lebih rendah dorong efisiensi operasional. Hingga akhir Maret 2026, proses ini prioritaskan kepastian bagi ratusan perusahaan nikel.

 

Next Post Previous Post