Inalum Cetak Laba Rp 2,4 Triliun di 2025, Dorong Kemandirian Aluminium Nasional

Inalum Cetak Laba Rp 2,4 Triliun di 2025, Dorong Kemandirian Aluminium Nasional
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), anak perusahaan holding BUMN industri pertambangan MIND ID, berhasil mencetak laba bersih sekitar Rp 2,4 triliun pada 2025. Catatan kinerja ini menegaskan posisi Inalum sebagai pemain kunci dalam rantai industri hilirisasi aluminium di Indonesia, sekaligus menunjukkan perbaikan kinerja setelah tahun‑tahun sebelumnya mengalami tekanan akibat volatilitas harga komoditas global.

Peningkatan Laba dan Target 2025

Berdasarkan data keuangan, laba bersih Inalum pada 2025 tercatat lebih tinggi dibanding capaian 2024 yang berada di kisaran Rp 2,01 triliun (sekitar USD 123,7 juta). Pada 2025, perseroan menargetkan laba bersih sekitar USD 120–130 juta (setara Rp 2,1–2,4 triliun dengan asumsi kurs tahun ini), dan kinerja tahun lalu diklaim telah melampaui atau mendekati target tersebut. Kenaikan laba ini didorong oleh peningkatan volume penjualan, efisiensi biaya, serta dukungan energi dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menekan ongkos produksi.

Produksi dan Penjualan Aluminium Meningkat

Dari sisi operasional, Inalum berhasil meningkatkan produksi aluminium secara signifikan. Sepanjang 2024, produksi aluminium Inalum mencapai 274.230 ton, melonjak sekitar 27,61 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan volume penjualan yang juga tumbuh 25,55 persen menjadi 276.381 ton. Pada 2025, perusahaan menargetkan produksi aluminium sekitar 280.000 ton per tahun, dengan kapasitas pabrik yang masih di level sekitar 300.000 ton per tahun. Kenaikan produksi dan penjualan ini menjadi penopang utama pertumbuhan pendapatan dan laba perseroan.

Hilirisasi dan Pengurangan Impor Alumina

Langkah hilirisasi aluminium nasional juga menjadi salah satu fokus utama Inalum. Perusahaan memiliki proyek pabrik smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, yang ditargetkan beroperasi penuh mulai 2025. 

Dengan SGAR, Inalum bertujuan mengurangi ketergantungan impor alumina sebagai bahan baku utama, sekaligus meningkatkan nilai tambah dari sumber daya bauksit di dalam negeri. Inalum juga menargetkan penguasaan sekitar 48 persen pasar aluminium primer domestik pada 2025, dari total kebutuhan sekitar 472 ribu ton per tahun.

Kinerja Semester I 2025 dan Tren Positif

Pada semester I 2025, Inalum mencatatkan laba bersih sekitar USD 82,3 juta, atau sekitar 35 persen dari target laba tahunan yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Pendapatan perusahaan per Juni 2025 tercatat sekitar USD 366,5 juta, naik 6 persen dibanding RKAP dan lebih tinggi dari realisasi periode yang sama pada 2024. Di sisi biaya, total cost tercatat lebih rendah dari anggaran, didorong penurunan efisiensi biaya pokok penjualan dan beban usaha.

Rencana IPO dan Transformasi Jangka Panjang

Melihat tren kinerja yang membaik, Inalum mulai menyiapkan langkah transformasi jangka panjang, termasuk rencana penawaran umum saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia pada 2026. Perseroan disebut sedang menyiapkan struktur, governance, dan kinerja keuangan agar siap menarik investor pasar modal domestik maupun asing. 

Dengan laba sekitar Rp 2,4 triliun di 2025, serta komitmen pada hilirisasi dan pengurangan impor bahan baku, Inalum diharapkan menjadi tulang punggung industri aluminium nasional yang berdaya saing global.

Next Post Previous Post