Iran Tutup Selat Hormuz, Pengiriman Minyak & Gas Terganggu
Iran telah menutup Selat Hormuz sebagai respons tegas terhadap serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap target militer di wilayahnya, yang memicu gangguan besar pada rute pengiriman minyak dan gas alam dunia.
Peristiwa ini terjadi pada akhir Februari 2026, tepatnya setelah serangan udara masif pada tanggal 28 Februari, di mana Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan sementara selat tersebut melalui peringatan VHF kepada kapal tanker internasional.
Kronologi Kejadian
Konflik memanas sejak akhir pekan sebelumnya, ketika ketegangan antara Israel-AS dengan Iran meningkat akibat serangan rudal dan drone dari kedua belah pihak. Pada 27 Februari, media Iran mulai mengancam penutupan Selat Hormuz sebagai senjata ekonomi terakhir.
Pagi hari 28 Februari, IRGC mengonfirmasi penutupan, dengan kapal-kapal asing diperingatkan untuk menghindari jalur tersebut. Saat ini, pada 1 Maret 2026, situasi masih tegang dengan kapal tanker menumpuk di pelabuhan alternatif seperti Fujairah (UEA) dan Oman.
Dampak Ekonomi Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilewati sekitar 20-30% pasokan minyak dunia (sekitar 21 juta barel per hari) dari produsen seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, Kuwait, dan sendiri Iran, serta 20% LNG global dari Qatar.
Penutupan ini menyebabkan harga minyak Brent langsung melonjak ke atas US$95 per barel dan berpotensi mencapai US$120-150 jika berlangsung lebih dari seminggu, memicu inflasi energi global. Pasar saham Asia dan Eropa anjlok, dengan premi risiko minyak naik tajam, sementara rantai pasok bahan bakar terganggu hingga ke Eropa dan Asia Timur.
Efek Khusus bagi Indonesia
Indonesia, sebagai importir minyak bersih terbesar di Asia Tenggara, menghadapi ancaman kenaikan harga BBM dan listrik yang signifikan, potensial hingga 20-30% dalam hitungan hari.
Pertamina diprediksi kesulitan impor dari Timur Tengah, memaksa diversifikasi ke Rusia atau AS meski biaya lebih tinggi. D
ampak lanjutan termasuk pelemahan rupiah, inflasi pangan (karena biaya transportasi), dan gangguan industri manufaktur yang bergantung energi murah. Pemerintah RI disebut sedang berkoordinasi dengan ASEAN dan Opec+ untuk respons darurat.
Respons Pihak Terkait
AS melalui Angkatan Lautnya (5th Fleet) memperingatkan kapal dagang untuk menghindari selat dan mengerahkan kapal perang ke Teluk Persia.
Inggris menyatakan perintah Iran "tidak mengikat secara hukum" karena selat adalah perairan internasional, sementara Yunani membatasi kapal benderanya. Iran sendiri mengklaim penutupan hanya sementara hingga "balasan selesai", tapi analis memprediksi negosiasi cepat via Oman atau Qatar untuk membuka kembali. Saat ini, tidak ada laporan bentrokan langsung di selat, tapi ketegangan tetap tinggi.

