Jepang Prioritaskan Cadangan Minyak untuk Kebutuhan Domestik
Pemerintah Jepang mulai melepas cadangan minyak nasional untuk menjaga stabilitas pasokan energi di tengah krisis global. Langkah ini diambil akibat lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara AS-Israel dan Iran yang mengganggu Selat Hormuz.
Latar Belakang Krisis
Konflik Timur Tengah menyebabkan kekhawatiran pasokan minyak global, dengan impor Jepang terancam menurun signifikan sejak akhir Maret 2026. Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan kebijakan ini usai rapat kabinet pada 24 Maret 2026, melanjutkan pelepasan cadangan swasta sejak pekan sebelumnya. Jepang, sebagai negara impor minyak besar, menerapkan Undang-Undang Pemeliharaan Cadangan Minyak 1975 untuk situasi darurat seperti ini.
Detail Pelepasan Cadangan
Pelepasan dimulai 26 Maret 2026 dari 11 fasilitas penyimpanan, dengan volume sekitar 8,5 juta kiloliter atau setara 80 juta barel secara bertahap. Cadangan negara setara kebutuhan 30 hari dilepas ke kilang domestik, setelah swasta menyumbang pasokan untuk 15 hari. Kebijakan ini berlaku hingga 15 April 2026 untuk kilang, pemasar, dan importir.
Dampak Ekonomi dan Strategi
Tindakan ini bertujuan stabilkan harga dan distribusi produk minyak di pasar domestik Jepang. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri memerintahkan perusahaan minyak prioritaskan stok nasional daripada impor. Meski cadangan nasional berkurang 17%, langkah ini mitigasi blokade Selat Hormuz yang krusial bagi rute tanker.

