Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Awal dan Lebih Panjang, BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan
Musim kemarau 2026 diprediksi BMKG datang lebih cepat, berlangsung lebih lama, dan cenderung lebih kering dari kondisi normal. Peringatan ini penting bagi petani, pengelola sumber daya air, hingga masyarakat umum untuk mulai antisipasi dini.
Baca Juga: Musim Kemarau Tiba, Ini Cara Efektif Mengantisipasi Dampaknya di Rumah
Prediksi BMKG untuk kemarau 2026
BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada periode April–Juni 2026, lebih awal dibanding pola klimatologis 1991–2020. Sekitar 46,5 persen zona musim di Indonesia diperkirakan mengalami awal kemarau yang maju, dengan akumulasi curah hujan termasuk kategori di bawah normal.
Durasi dan tingkat kekeringan
Durasi kemarau 2026 diprediksi lebih panjang, dengan sekitar 57,2 persen zona musim mengalami kemarau yang lebih lama dari biasanya. Puncak kemarau umumnya diperkirakan jatuh pada Agustus 2026, dan sekitar 58,7 persen wilayah mengalami puncak kemarau yang juga lebih cepat dari normal.
Risiko yang perlu diwaspadai
Kondisi kemarau yang lebih awal, panjang, dan lebih kering meningkatkan potensi kekeringan dan kekurangan air, terutama untuk irigasi pertanian dan kebutuhan domestik. BMKG juga mengingatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat, sehingga perlu pengawasan lebih ketat di daerah‑daerah rawan.
Langkah antisipasi yang bisa diambil
Pemerintah daerah dan sektor pertanian disarankan menyesuaikan jadwal tanam, memperkuat cadangan air, dan memperbanyak sistem irigasi efisien. Masyarakat diminta mulai menghemat air, memperbaiki saluran air, dan waspada terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran di musim kemarau.

