KOSPI Anjlok Lebih dari 4% Saat Nilai Tukar Won-Dolar Tembus 1.500
Indeks saham KOSPI Korea Selatan mengalami penurunan tajam melebihi 4% akibat pelemahan won terhadap dolar AS yang menembus level kritis 1.500 untuk pertama kalinya sejak 2009. Peristiwa ini dipicu oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Latar Belakang Pelemahan Won
Won Korea Selatan sempat mencapai 1.505,8 per dolar AS pada sesi perdagangan awal Maret 2026, sebelum sedikit pulih ke kisaran 1.472-1.485. Eskalasi konflik melibatkan serangan udara Israel-AS ke Iran dan balasan Iran di Teluk, mengganggu pasokan minyak yang menyumbang 70% impor energi Korea Selatan dari Timur Tengah. Hal ini memicu kekhawatiran inflasi global dan risk-off sentiment, mendorong investor asing menjual aset Korea.
Penurunan Drastis Indeks KOSPI
| (Foto KOSPI dari Google Finansial) |
Dampak Ekonomi dan Pasar
Korea Selatan, importir minyak terbesar keempat dunia, rentan terhadap kenaikan harga minyak di atas US$82 per barel yang bisa tekan pertumbuhan ekonomi dan neraca berjalan. Analis Kiwoom Securities Lee Sung-hoon menyebut pelemahan won saling terkait dengan jual saham asing di tengah sentimen negatif global. Pasar valuta asing dan saham Korea menunjukkan volatilitas tinggi sejak awal Maret 2026, dengan dolar indeks melonjak di atas 100.
Prospek dan Respons Pasar
Ekonom BNY Mellon soroti ketergantungan energi Korea pada Teluk sebagai pemicu utama. Meski won sempat stabil di 1.477-1.494 pada sesi berikutnya, analis prediksi fluktuasi lanjutan di kisaran 1.500 akibat ketegangan berkepanjangan. Pasar global seperti Dow Jones (-0,8%), S&P 500 (-0,9%), dan Nasdaq (-1,0%) juga terdampak kekhawatiran inflasi dan penurunan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed.

